JAKARTA – Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penghargaan ini khususnya ditujukan atas keberhasilan transformasi 16 layanan strategis serta pencapaian pengakuan internasional sebagai WHO Listed Authority (WLA).
Presiden menempatkan kemajuan yang diraih BPOM sebagai salah satu capaian penting Kabinet Merah Putih. Di bawah kepemimpinan Kepala BPOM Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., reformasi pelayanan publik berjalan beriringan dengan pengakuan dunia, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai lembaga regulator kesehatan yang diperhitungkan di tingkat global.
Status WLA yang diberikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuktikan bahwa sistem regulasi dan pengawasan obat serta makanan di Indonesia telah memenuhi standar internasional. Capaian ini hanya diraih oleh sedikit otoritas pengawas di dunia, sekaligus menjadi bukti keberhasilan modernisasi tata kelola yang dilakukan BPOM.
Menyikapi hal tersebut, Prof. Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengakuan ini bukanlah garis akhir, melainkan pijakan baru untuk melangkah lebih jauh.
“Status WHO Listed Authority bukanlah titik berhenti, melainkan landasan untuk terus memperkuat kualitas regulasi, mempercepat pelayanan publik, memperkokoh pengawasan obat dan makanan, serta meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional,” ujarnya.
Transformasi 16 layanan strategis yang disorot antara lain meliputi percepatan registrasi obat dan produk biologi, notifikasi kosmetik, registrasi pangan olahan, serta kemudahan perizinan ekspor-impor dan sertifikasi sarana produksi. Langkah ini bertujuan mempermudah iklim usaha sekaligus menjamin perlindungan maksimal bagi masyarakat.
Di penghujung sidang, Kepala BPOM menyampaikan terima kasih atas apresiasi Presiden dan berkomitmen mempertahankan serta meningkatkan standar kinerja agar manfaatnya semakin dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku industri.
















