MAKASSAR – Pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh angka Rp18.178 per Dolar Amerika Serikat pada awal Juni 2026 menjadi perhatian serius dari Jaringan Intelektual Nusantara (JIN). Organisasi ini menilai gejolak tersebut bukan hanya dipengaruhi situasi luar, melainkan menjadi sinyal adanya persoalan mendasar dalam struktur ekonomi nasional yang harus segera diperbaiki. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (23/6/2026).
Ketua Umum DPP JIN, Wahyu Se, MM atau yang akrab disapa Bayu Bedipers, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik, tingginya suku bunga AS, atau penguatan nilai dolar. Menurutnya, dampak gejolak global akan terasa berbeda di setiap negara; dan penurunan yang cukup tajam ini menunjukkan adanya kerentanan yang bersumber dari dalam negeri.
“Gejolak global memang berpengaruh, tetapi dampaknya tidak sama di mana-mana. Ketika rupiah tertekan cukup dalam, hal itu membuktikan ekonomi kita masih memiliki sejumlah kelemahan yang belum tuntas diatasi,” tegas Bayu.
Salah satu poin utama yang disorot adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor—mulai dari bahan baku industri, barang modal, energi, hingga sejumlah komoditas pangan. Kondisi ini membuat biaya produksi otomatis naik saat rupiah melemah, yang akhirnya berujung pada kenaikan harga barang dan jasa di pasaran.
Selain itu, JIN juga menyoroti kebutuhan devisa yang besar untuk pembayaran utang luar negeri, pengembalian keuntungan perusahaan asing, serta transaksi lintas batas lainnya. Selama struktur ekonomi masih sangat bergantung pada modal dan pembiayaan dari luar, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi muncul berulang kali setiap kali terjadi perubahan sentimen pasar dunia.
“Selama kita masih sangat bergantung pada modal luar, tekanan terhadap rupiah akan selalu datang kembali begitu ada perubahan suasana di pasar keuangan global,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan pengelolaan keuangan negara. Berbagai program prioritas membutuhkan anggaran besar, sehingga harus diimbangi dengan penguatan penerimaan dan pengelolaan fiskal yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Bayu juga mengingatkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat: pelemahan nilai tukar mendorong kenaikan biaya hidup dan menekan daya beli, khususnya bagi kelompok menengah serta pelaku usaha skala kecil.
Oleh karena itu, JIN mendorong percepatan reformasi ekonomi secara menyeluruh. Langkah yang disarankan meliputi penguatan kemandirian pangan dan pertanian, pengembangan industri pengolahan berbasis teknologi, serta memperluas sumber pembiayaan dari dalam negeri agar ketergantungan terhadap modal asing dapat berkurang secara bertahap.
“Nilai tukar bukan sekadar angka moneter, melainkan cerminan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi kita. Pelemahan ini harus dijadikan momentum evaluasi bersama agar ketahanan ekonomi nasional makin kokoh menghadapi segala gejolak luar,” pungkas Bayu.
















