Oleh : Ismawan Amir
Pemerintah terus mengawal program swasembada gula konsumsi yang ditargetkan tercapai pada 2028. Salah satu langkah yang disiapkan yakni melibatkan tim independen, kampus, dan lembaga kajian untuk turun langsung ke lapangan mengecek capaian produksi serta mutu tebu petani peserta program Bongkar Ratoon (BR) dan Perluasan.
Program bongkar ratoon dan perluasan areal tebu telah berjalan sejak 2025. Tahun ini, sejumlah areal pertanaman penerima bantuan mulai memasuki masa giling. Pemerintah menilai peningkatan produktivitas dan mutu tebu menjadi indikator penting keberhasilan program tersebut.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Dr. Haris Bahrun, mengatakan Kementerian Pertanian akan menurunkan tim berkompeten untuk memverifikasi capaian produksi dan mutu tebu di tingkat petani. Pengawalan akan dilakukan di sejumlah sentra tebu, antara lain Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan.
“Angka yang harus dicapai adalah peningkatan produksi 40 hingga 50 persen dari produktivitas sebelum mengikuti program. Mutu tebu juga ditargetkan meningkat 2 persen. Untuk wilayah Jawa, harapan kami produksi bisa di atas 1.000 kuintal per hektare dengan mutu tebu berkisar 8 hingga 10 persen,” ujar Haris.
Menurut Haris, hasil kajian lapangan tersebut akan ditindaklanjuti dengan pengawalan di tingkat pabrik gula, khususnya pabrik gula milik pemerintah yang menjadi pendukung program.
“Kami meyakini seharusnya ada kenaikan mutu tebu yang signifikan. Kenaikan ini akan berdampak langsung pada peningkatan produksi gula,” jelasnya.
Gap Mutu Tebu PG Swasta dan BUMN Jadi Sorotan
Di lapangan, kesenjangan mutu tebu antara pabrik gula swasta dan pabrik gula milik pemerintah masih menjadi perhatian petani. Maryono, petani tebu asal Rembang sekaligus pengurus APTRI Jawa Tengah, menyebut pada musim giling lalu mutu tebu di PG swasta rata-rata mencapai 7 hingga 7,5 persen.
Sementara itu, mutu tebu di pabrik gula milik pemerintah berada di kisaran 5 hingga 6 persen, dengan produksi sekitar 300 sampai 500 kuintal per hektare.
“Untuk kegiatan BR dan Perluasan di Rembang seluas 1.500 hektare, saya perkirakan produksi bisa di atas 700 kuintal per hektare dengan mutu tebu 7 hingga 9 persen. Apalagi petani sudah menanam varietas unggul baru,” kata Maryono.
Maryono menilai pelibatan tim independen, kampus, dan lembaga kajian penting agar capaian di lapangan dapat diukur secara objektif dan tidak hanya bergantung pada data administrasi.
Petani Minta Jaminan Mutu Tebu Minimal
Ketua KUD Sumber Bahagia, Budi Susilo, mengatakan sekitar 6.000 hektare kebun anggota telah mengikuti program BR dan Perluasan sejak 2025. Ia optimistis produksi tebu petani bisa meningkat di atas 1.200 kuintal per hektare dengan mutu tebu 8 hingga 9,5 persen.
Namun, Budi mengingatkan keberhasilan bongkar ratoon tidak cukup hanya ditentukan oleh benih bermutu, sarana produksi, dan luas kebun yang diremajakan. Menurutnya, kepastian pendapatan petani setelah panen juga menjadi faktor penting.
“Di sinilah mutu tebu menjadi faktor menentukan. Karena itu, kami mengusulkan kepada Bapak Menteri Pertanian agar ada pengawalan khusus terhadap penetapan mutu tebu petani peserta bongkar ratoon, khususnya program 2025,” kata Budi.
Budi juga mengusulkan adanya Jaminan Mutu Tebu Minimal atau JMTM bagi petani peserta bongkar ratoon. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi insentif agar petani lebih yakin mengikuti program pemerintah.
“Jika ini diterapkan, akan memberikan insentif nyata bagi petani untuk ikut program pemerintah pada tahun berikutnya,” tegasnya.
Petani Berharap Produktivitas Berlipat
Sri Haryono, petani peserta bongkar ratoon dari wilayah Karanganyar, Boyolali, dan Sukoharjo, Jawa Tengah, mengaku sebelum mengikuti program produktivitas tebunya hanya sekitar 600 kuintal per hektare. Saat itu, mutu tebu yang diperoleh berada di kisaran 5 hingga 6,5 persen.
Ia berharap program bongkar ratoon mampu meningkatkan produktivitas hingga 900 kuintal per hektare dengan mutu tebu 7,5 persen. Apalagi, petani telah mengembangkan sejumlah varietas unggul seperti AAS, NXI 4T, Panjalu, dan PS 862.
Harapan serupa disampaikan Agus, petani peserta BR asal Sulang, Rembang. Ia mengaku sebelumnya hanya memperoleh produksi sekitar 400 kuintal per hektare dengan mutu tebu 6 persen.
“Kami berharap produksi bisa naik menjadi 800 kuintal per hektare dan mutu tebu mencapai 8 persen,” kata Agus.
Akademisi dan Lembaga Kajian Siap Dukung
Dukungan terhadap program swasembada gula juga datang dari kalangan akademisi. Pakar Budidaya Tebu Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Yunus Muza, menyatakan siap bersama para ahli lainnya membantu Kementerian Pertanian meningkatkan produktivitas dan mutu tebu nasional.
Menurut Yunus, keterlibatan kampus penting untuk memastikan evaluasi program berjalan ilmiah, objektif, dan berbasis data lapangan. Ia menilai peningkatan produktivitas dan mutu tebu menjadi kunci penting dalam mewujudkan swasembada gula pada 2028.
Sementara itu, Learning Centre Indonesia sebagai pusat kajian telah melakukan pemetaan awal potensi peningkatan produktivitas di berbagai daerah penghasil tebu.
Direktur Eksekutif Learning Centre Indonesia, Ichi Indrawan, menjelaskan pihaknya tengah mengumpulkan dan memverifikasi data riil dari lapangan terkait capaian produktivitas dan mutu tebu petani peserta program bongkar ratoon dan perluasan.
“Kami akan melaporkan real data lapangan kepada Bapak Menteri Pertanian. Data ini penting agar pemerintah memiliki gambaran objektif tentang capaian produktivitas, mutu tebu, serta potensi peningkatan di berbagai daerah penghasil tebu,” kata Ichi.
Swasembada Gula Butuh Data Lapangan
Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi terwujud pada 2028 melalui program revitalisasi kebun tebu nasional. Melalui pelibatan tim independen, kampus, dan lembaga kajian, pemerintah berharap capaian program bongkar ratoon dan perluasan dapat terukur secara objektif.
Pengawalan mutu tebu dari tingkat petani hingga pabrik gula dinilai menjadi salah satu kunci agar peningkatan produktivitas benar-benar berdampak pada produksi gula nasional.














