Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Ketika Masjid Bicara Masa Depan Generasi

×

Ketika Masjid Bicara Masa Depan Generasi

Sebarkan artikel ini

Opini Oleh : Sahrul Ariansyah

Kultum subuh yang saya ikuti di Masjid Sultan Alauddin JL Prof.Abdurahman Basalamah memberikan banyak pelajaran dan renungan tentang pentingnya kepedulian terhadap generasi muda. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi anak muda saat ini, saya melihat bahwa masjid masih menjadi ruang yang tepat untuk membicarakan masa depan umat dan bangsa.

Example 500x700

Dalam kultum tersebut, penceramah menyoroti berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, termasuk fenomena pergaulan yang semakin mengkhawatirkan. Yang menarik, pembahasan ini tidak berhenti pada kritik atau keluhan semata, tetapi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran dalam menjaga dan membimbing generasi penerus.

Menurut saya, pembahasan seperti ini sangat penting untuk terus dihidupkan. Sebab persoalan generasi muda bukan hanya urusan keluarga atau sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika anak muda mengalami krisis nilai dan arah hidup, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton.

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing. Jika dahulu generasi muda menghadapi keterbatasan akses informasi, maka generasi hari ini justru menghadapi banjir informasi yang datang tanpa batas melalui media sosial dan perkembangan teknologi digital. Dalam kondisi seperti ini, proses pembinaan generasi tidak bisa hanya diserahkan kepada keluarga atau sekolah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Dalam kultum tersebut juga disinggung mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) terkait larangan LGBT di Kota Makassar yang saat ini sedang didorong dan dibahas oleh DPRD bersama Pemerintah Kota Makassar. Bahkan, muncul usulan agar masyarakat turut mengajukan petisi atau melakukan dengar pendapat dengan DPRD sebagai bentuk partisipasi dan kepedulian terhadap isu yang dianggap berdampak pada masa depan generasi muda.

Bagi saya, yang paling menarik bukan hanya pembahasan mengenai sebuah regulasi, melainkan tumbuhnya kesadaran bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab untuk ikut memikirkan arah generasi muda. Sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga melalui kualitas moral, karakter, dan nilai yang diwariskan kepada generasi penerusnya.

Pembahasan ini mengingatkan saya pada sebuah video singkat dari Ustadz Bahrun Alumni Pondok Pesantren Darul Huffadh yang berjudul “Jangan Biarkan Generasi Muda Rusak”. Dalam video tersebut disampaikan bahwa kemajuan maupun kemunduran sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.

Sebagaimana dinukil dalam sejumlah literatur dan ceramah keislaman, Abul Abbas Al-Qurthubi rahimahullah menyebut bahwa di antara faktor yang menyebabkan runtuhnya Andalusia adalah tersebarnya kemaksiatan di kalangan generasi muda yang tidak lagi diingkari oleh generasi yang lebih tua. Tentu saja, sejarah mencatat bahwa keruntuhan Andalusia tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Berbagai persoalan politik, perpecahan internal, ekonomi, dan tekanan militer turut menjadi bagian dari penyebabnya. Namun, pesan moral yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut adalah bahwa kualitas moral suatu generasi merupakan salah satu fondasi penting bagi tegaknya sebuah peradaban.

Umat ini akan senantiasa berada di atas kebaikan ketika para pemuda dan pemudinya masih mau mendengarkan nasihat orang tua, guru, dan para ulama. Sebaliknya, musibah akan semakin dekat ketika generasi muda tidak lagi menghargai nasihat, sementara orang tua, guru, dan masyarakat mulai bersikap acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekeliling mereka.

Karena itu, kepedulian terhadap generasi muda tidak cukup diwujudkan dalam bentuk kritik atau kekhawatiran semata. Yang lebih penting adalah menghadirkan solusi dan ruang pembinaan yang nyata. Masjid, sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, dan berbagai komunitas masyarakat perlu menjadi tempat yang ramah bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan potensi, serta mendapatkan pendampingan dari orang-orang yang lebih berpengalaman.

Selain itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak-anak mereka. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan keteladanan, perhatian, dan kedekatan emosional. Begitu pula para guru, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang memiliki peran penting dalam memberikan contoh serta arah bagi generasi muda.

Saya melihat bahwa inilah pesan utama yang ingin disampaikan dalam kultum tersebut. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, tempat lahirnya kepedulian sosial, serta ruang untuk membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut masa depan generasi.

Pada akhirnya, menjaga generasi muda bukan hanya tentang mencegah mereka dari hal-hal yang dianggap buruk, tetapi juga tentang menghadirkan lingkungan yang membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan memiliki kontribusi bagi masyarakat. Generasi yang baik tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk melalui perhatian, pendidikan, keteladanan, dan kepedulian yang terus-menerus dari seluruh elemen umat.

Karena itu, sudah saatnya kita tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi pada generasi muda hari ini?” tetapi juga bertanya, “Apa yang sudah kita lakukan untuk mereka?” Sebab masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh pilihan mereka, tetapi juga oleh sejauh mana kita hadir untuk membimbing dan membersamai mereka.

Sebab generasi muda hari ini bukan hanya pewaris masa depan, melainkan juga penentu arah peradaban di masa yang akan datang. Jika mereka dijaga, dibimbing, dan diarahkan dengan baik, maka harapan akan masa depan yang lebih baik akan tetap menyala. Namun jika mereka dibiarkan berjalan tanpa tuntunan dan kepedulian, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan umat dan bangsa itu sendiri.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *