Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Sa’i dan Spirit Perempuan dalam Membangun Peradaban

×

Sa’i dan Spirit Perempuan dalam Membangun Peradaban

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fatmawati Hilal (Guru Besar UIN Alauddin Makassar,Jamaah Haji Kloter UPG 5)

Makkah Al-Mukarramah – Usai thawaf di Masjidil Haram dan menyelesaikan rangkaian shalat sunnah thawaf serta meminum air Zamzam, kami rombongan 10, UPG 5 bergerak bersama menuju Bukit Shafa dan Marwah untuk melaksanakan sa’i.

Example 500x700

Langkah demi langkah mulai kami ayunkan. Di tengah arus jamaah dari berbagai bangsa, saya mencoba membangkitkan semangat teman-teman rombongan. Sambil berjalan, saya meneriakkan kalimat-kalimat penyemangat:

“Bapak ibu, proses sa’i ini adalah proses yang sangat penting untuk dipetik hikmahnya. Ini adalah napak tilas perjuangan seorang ibu hebat, Siti Hajar, yang dengan segala keterbatasan terus berjuang mencari air untuk putranya. Siti Hajar tidak tahu, apakah benar ia akan menemukan air kehidupan di padang yang tandus itu. Tapi beliau terus optimis, terus berlari kecil antara Shafa dan Marwah. Siti Hajar mengajarkan kepada kita tentang optimisme.”

Kalimat itu terasa begitu hidup ketika kami sendiri sedang menjalaninya. Di tengah lelah, padatnya jamaah, dan panjangnya lintasan sa’i, kisah Siti Hajar seolah hadir kembali di hadapan kami.

Sa’i memang bukan sekadar berjalan dan berlari kecil antara dua bukit. Sa’i adalah simbol perjuangan manusia dalam menjaga harapan, meski hasil belum terlihat. Ritual ini menjadi penghormatan besar Islam terhadap perjuangan seorang perempuan agung yang jejak langkahnya diabadikan sepanjang zaman.

Kisah sa’i bermula ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail, di lembah tandus yang kini menjadi Makkah. Saat persediaan air habis dan tangisan Ismail semakin keras, Siti Hajar tidak hanya diam menunggu mukjizat. Ia bergerak. Ia berlari antara Shafa dan Marwah mencari air untuk anaknya. Yang luar biasa, Siti Hajar berlari tanpa kepastian. Ia tidak tahu kapan pertolongan Allah datang. Ia bahkan tidak tahu apakah air akan ditemukan. Namun ia tetap bergerak. Tetap berusaha. Tetap berharap. Di situlah makna besar sa’i.

Sa’i mengajarkan bahwa iman tidak boleh melahirkan kemalasan. Tawakal tidak berarti pasrah tanpa upaya. Siti Hajar memberikan keteladanan bahwa doa harus sejalan dengan ikhtiar.

Air Zamzam akhirnya muncul setelah usaha maksimal dilakukan. Seolah Allah ingin mengajarkan bahwa pertolongan-Nya selalu hadir setelah manusia menunjukkan kesungguhan. Karena itu, sa’i sesungguhnya adalah filosofi optimisme: berjuanglah, meski hasilnya belum terlihat.

Nilai ini sangat relevan dengan kehidupan modern hari ini. Banyak orang ingin hasil instan. Sedikit gagal langsung menyerah. Sedikit sulit lalu kehilangan harapan. Padahal hidup sering kali menuntut “sa’i” yang panjang: usaha berulang, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah tidak sia-sia.

Seorang pelajar yang terus belajar meski belum lulus, orang tua yang bekerja keras demi keluarga, pedagang kecil yang tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi, semuanya sedang menjalani “sa’i” dalam kehidupannya.

Selain mengajarkan tentang ikhtiar, sa’i juga menyampaikan pesan penting kemanusiaan yang sangat kuat tentang posisi perempuan dalam Islam. Menariknya, ritual yang dijalankan jutaan umat Islam setiap tahun ini bukan diambil dari perjuangan seorang raja atau panglima perang yang gagah perkasa, melainkan dari perjuangan seorang ibu. Bukan pula dari sosok laki-laki yang selama ini lebih banyak mendominasi catatan sejarah, tetapi dari keteguhan seorang perempuan yang dalam sebagian tradisi masyarakat kerap dipandang lemah dan dipinggirkan. Namun justru melalui Siti Hajar, Islam mengabadikan bahwa ketulusan, perjuangan, dan kasih sayang seorang perempuan mampu melahirkan peradaban besar bagi umat manusia.

Islam mengabadikan langkah seorang perempuan menjadi bagian dari rukun ibadah suci umat manusia. Ini adalah pengakuan besar bahwa perempuan memiliki tempat terhormat dalam sejarah peradaban.

Siti Hajar bukanlah perempuan biasa, bukan sekadar pendamping Nabi Ibrahim as. Ia adalah simbol keteguhan, keberanian, dan pengorbanan. Dari perjuangannya lahir sumber kehidupan Zamzam, yang hingga hari ini terus mengalir dan memberi manfaat bagi jutaan manusia. Dari langkahnya yang tak terputus, hadir jariyah optimisme tak terputus pada Sang Khaliq.

Dari seorang perempuan yang berlari di tengah padang tandus, lahirlah mata air kehidupan dan peradaban besar umat manusia. Ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga penggerak lahirnya peradaban.

Sa’i akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa hidup harus terus bergerak. Jangan berhenti hanya karena belum menemukan “air Zamzam” dari usaha kita. Bisa jadi, pertolongan Allah sedang menunggu di ujung kesungguhan dan kesabaran kita. Sebab dalam sa’i, manusia belajar satu hal penting: harapan harus diperjuangkan. (Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *