MAKASSAR,- Sosok Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Daeng Ical menjadi sorotan utama dalam hari kedua Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Di hadapan 72 peserta dari unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah serta perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah se-Sulsel, ia membawakan materi bertajuk “Ruang Aman di Dunia Digital” dengan penekanan kuat pada urgensi keamanan siber.
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh penekanan, Daeng Ical mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tidak sedang baik-baik saja di ruang digital. Ia menggambarkan kondisi siber nasional sebagai “perang tanpa senjata” yang berlangsung setiap saat. “Kita bukan hanya menghadapi ancaman, kita sudah berada di dalam medan perang itu,” tegasnya di hadapan peserta.
Menurutnya, tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia menjadikan negara ini sebagai target empuk berbagai serangan, mulai dari phishing, ransomware, hingga kebocoran data berskala besar. Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar celah justru berasal dari faktor manusia yang masih abai terhadap keamanan digital.
Sebagai anggota DPR RI Komisi I, Daeng Ical menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pertahanan siber nasional melalui regulasi, termasuk pengawalan implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Ia menilai, perlindungan data bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di era digital saat ini.
Tak hanya berbicara di level negara, Daeng Ical juga menekankan pentingnya peran organisasi seperti Muhammadiyah dalam menjaga ruang digital yang sehat. Ia mendorong peserta untuk menjadi pelopor literasi digital, membangun budaya “saring sebelum sharing”, serta meningkatkan perlindungan akun pribadi melalui fitur keamanan seperti two-factor authentication (2FA).
Dalam paparannya, ia juga menyinggung bahaya algoritma media sosial yang dapat mempercepat penyebaran hoaks dan memperlemah rasionalitas publik. Karena itu, menurutnya, penguatan literasi digital harus berjalan beriringan dengan kesadaran kritis dalam mengonsumsi informasi.
Kehadiran Daeng Ical dalam pelatihan ini tidak hanya memberikan wawasan strategis, tetapi juga menjadi pengingat bahwa tantangan di ruang digital membutuhkan respons serius dari semua pihak. Melalui materi hari kedua ini, peserta diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan ruang digital yang aman, sekaligus menjaga reputasi organisasi di tengah derasnya arus informasi.
















