Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Setiap Malam Adalah Malam Kemuliaan di Bulan Ramadan 

4
×

Setiap Malam Adalah Malam Kemuliaan di Bulan Ramadan 

Sebarkan artikel ini

Oleh: Tamsil Linrung

Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab 41 yang artinya Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya zikir.

Example 500x700

Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu menghadirkan semangat besar di tengah umat. Masjid lebih ramai. Doa semakin panjang. Harapan bertemu Lailatul Qadar terasa semakin dekat.

Di tengah suasana itu muncul satu cara pandang yang perlahan tumbuh dalam kesadaran modern. Ibadah sering dipahami seperti perhitungan pahala. Satu malam bernilai seribu bulan. Satu amal memiliki kelipatan tertentu. Perhatian pun tertuju pada momen yang dianggap paling menguntungkan. 

Banyak yang hanya menunggu malam ganjil untuk mengejar Lailatul Qadar. Seolah malam-malam lain kehilangan nilainya.

Cara pandang seperti ini terasa sejalan dengan watak zaman yang serba cepat. Peradaban hari ini dipenuhi dorongan kesenangan instan. Teknologi dan media sosial membentuk pola hidup yang bergerak dari satu rangsangan ke rangsangan lain. Setiap notifikasi menghadirkan sensasi kecil yang memancing dopamin dalam diri manusia.

Akibatnya banyak aktivitas dijalani dengan logika keuntungan cepat. Bahkan ibadah kadang dipandang melalui sudut pandang yang serupa. Seolah hubungan dengan Allah hanya sebuah transaksi spiritual.

Padahal perjalanan spiritual dalam Islam memiliki kedalaman yang jauh lebih luas. Ibadah merupakan perjalanan panjang menuju ridha Allah. Sebuah proses yang membentuk hati secara perlahan.

Teladan itu tampak jelas dalam kehidupan Rasulullah ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam dengan kesungguhan yang luar biasa.

Kesungguhan ini berlangsung sepanjang sepuluh malam. Perhatian Rasulullah ﷺ tertuju pada kedekatan dengan Allah, bukan sekadar mencari satu malam yang dianggap paling bernilai.

Para ulama sering menggambarkan suasana itu sebagai puncak perjalanan spiritual Ramadan. Setelah tubuh dan jiwa dilatih selama berhari-hari, hati memasuki fase yang lebih hening. Doa menjadi lebih jujur. Harapan menjadi lebih dalam.

Di saat sebagian wilayah dunia masih diliputi peperangan dan ketegangan antar kekuatan besar, ibadah pada malam-malam ini menghadirkan satu bentuk harapan yang tenang. Harapan yang lahir dari doa dan kedekatan kepada Allah.

Sepuluh malam terakhir Ramadan mengajarkan satu sikap yang berbeda dari logika dunia. Setiap malam menjadi kesempatan untuk memperpanjang perjalanan menuju ridha Allah. Setiap sujud menjadi ruang untuk membersihkan hati dari kecanduan kesenangan sementara.

Ibadah pada malam-malam ini membentuk kesadaran yang lebih dalam tentang hidup. Manusia belajar bahwa kebahagiaan yang sejati tidak lahir dari rangsangan yang cepat datang lalu menghilang. Kebahagiaan tumbuh dari kedekatan yang terus dijaga dengan Sang Pencipta.

Barangkali justru pada hati yang hidup setiap malam itulah cahaya kemuliaan turun tanpa disadari. Sebuah anugerah yang Allah berikan kepada hamba yang terus mencari-Nya dengan penuh kesungguhan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *