MAKASSAR, 24 Januari 2026 – Masalah kesehatan mental dan Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang masih mengganggu kondisi remaja putri menjadi dasar pelaksanaan kegiatan intervensi kesehatan pada hari Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan yang bertujuan promotif dan preventif ini menghadirkan dua sesi edukasi berbeda, yaitu KIRANA x Piring KIRANA dan SETAPAK x Energy Quest.
Kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental serta pola makan gizi seimbang dinilai dapat memberikan dampak luas, mulai dari kondisi fisik dan psikologis hingga meningkatkan risiko masalah kesehatan yang berlangsung dalam jangka panjang. Oleh karena itu, intervensi ini dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan remaja putri akan materi edukasi kesehatan yang mudah dipahami dan relevan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari.
“Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja putri mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan gizi sejak dini, karena keduanya saling berkaitan dan berpengaruh terhadap kualitas hidup di masa depan,” ujar salah satu perwakilan pelaksana kegiatan dalam sambutannya.
Sesi Pertama: Mengkaji Hubungan Gizi dan Kesehatan Mental
Sesi KIRANA x Piring KIRANA memfokuskan pada penguatan pemahaman tentang kesehatan mental melalui pendekatan edukasi gizi. Peserta diajak untuk memahami bahwa pilihan makanan yang dikonsumsi tidak hanya berdampak pada kondisi tubuh secara fisik, tetapi juga memiliki peran penting dalam memengaruhi suasana hati serta kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Dalam sesi ini, remaja putri diberikan penjelasan tentang jenis-jenis makanan yang dapat mendukung kesehatan otak dan stabilitas emosi, serta bagaimana pola makan yang tidak teratur atau kurang seimbang dapat menjadi faktor risiko munculnya masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, atau perubahan mood yang tidak stabil.
Sesi Kedua: Fokus pada Pencegahan Kekurangan Energi Kronis
Sementara itu, sesi SETAPAK x Energy Quest difokuskan pada upaya pencegahan KEK, yang masih menjadi isu kesehatan nasional dengan prevalensi yang cukup signifikan pada kelompok remaja putri. KEK dapat dikenali melalui ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) yang kurang dari 23,5 cm dan umumnya disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memenuhi kebutuhan tubuh dalam jangka panjang.
Para peserta mendapatkan informasi tentang dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh KEK, antara lain risiko anemia, stunting, penurunan kemampuan belajar dan produktivitas, serta peningkatan risiko komplikasi selama masa kehamilan di kemudian hari. Selain itu, juga diberikan panduan praktis tentang cara memenuhi kebutuhan gizi harian melalui pilihan makanan yang mudah diakses dan sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat lokal.
Harapan dan Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Melalui dua sesi edukasi tersebut, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada diri remaja putri, serta mendorong mereka untuk melakukan perubahan perilaku sederhana dan realistis yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, dengan cara memberikan perhatian khusus pada penguatan kesehatan mental dan perlindungan kesehatan remaja putri dari risiko KEK sejak usia dini.
“Kita berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi awal dari perubahan positif yang dapat membawa dampak baik bagi diri mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat secara luas,” tutup perwakilan pelaksana.
















