MAKASSAR – Mantan Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sulawesi Selatan, Mujiburrahman B, resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas).
Sidang promosi doktor digelar di Aula Prof. Syukur Abdullah, Lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas, pada Jumat (10/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mujiburrahman yang akrab disapa Muji mempresentasikan disertasi berjudul “Jaringan Aktor: Studi tentang Basis Jaringan Keterpilihan Yasir Machmud sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan pada Pemilu 2024”.
Penelitian ini dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si dan Ko-Promotor Prof. Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si.
Dalam pemaparannya, Muji menguraikan bagaimana proses terbentuknya jejaring dukungan, peran aktor kunci, hingga pola jaringan yang mengantarkan Yasir Machmud meraih kemenangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan data dari 18 informan, analisis dokumen, hingga digital ethnography, yang dianalisis menggunakan teori Actor-Network Theory (ANT).
Muji menemukan bahwa pembentukan jaringan tersebut berlangsung melalui enam tahapan utama. Mulai dari akumulasi modal sosial melalui bisnis dan yayasan sebelum tahun politik, mobilisasi isu strategis seperti kelangkaan pupuk untuk mendekati masyarakat, hingga pembentukan struktur tim berjenjang hingga tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Tahap ketiga adalah pembentukan struktur melalui rekrutmen tim berjenjang di 2.270 TPS. Tahap keempat melibatkan integrasi teknologi melalui analitik pemilih dan kampanye digital,” jelasnya.
Lanjutnya, tahapan tersebut dilanjutkan dengan koordinasi adaptif melalui 200 titik tatap muka, serta konsolidasi akhir melalui quick count dan optimalisasi media sosial.
Dalam jaringan politik tersebut, Yasir Machmud berperan sebagai figur sentral atau Obligatory Passage Point (OPP). Selain figur utama, tokoh adat juga memiliki peran vital sebagai mediator yang mentransformasikan nilai-nilai budaya Bugis seperti Siri’ na Pacce, Sipakatau, dan Sipakalebbi ke dalam citra kandidat.
Menariknya, penelitian ini juga menyoroti peran “aktor non-manusia” seperti platform digital, program pupuk gratis, dan nilai budaya sebagai elemen penguat jaringan.
Pola yang terbentuk dikategorikan sebagai Hybrid Patron-Client Digital Network (HPCDN), yaitu perpaduan antara pola patron-klien tradisional dengan pendekatan digital modern yang bersifat hierarkis namun fleksibel.
“Stabilitas jaringan diperkuat melalui konsep black boxing, yaitu proses penguatan berulang hingga jaringan menjadi solid dan diterima begitu saja oleh masyarakat,” tambah Muji.
Hasilnya, strategi ini terbukti efektif membawa Yasir Machmud meraih 51.437 suara dan menjadi peraih suara terbanyak di Daerah Pemilihan VII Kabupaten Bone.
Muji menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan semata karena modal finansial, melainkan kemampuan membangun jaringan yang luas, heterogen, dan stabil melalui integrasi teknologi dan program konkret.
Penelitian ini juga menawarkan kebaruan ilmu pengetahuan dengan menerapkan teori ANT dalam studi politik lokal, serta menunjukkan adanya transformasi politik lokal di mana legitimasi tidak lagi hanya ditentukan oleh garis keturunan, melainkan juga oleh kemampuan manajemen jaringan berbasis data dan nilai budaya.
Diketahui, Yasir Machmud merupakan mantan Ketua KONI Sulawesi Selatan yang pernah bekerja sama dengan Mujiburrahman saat menjabat sebagai Sekretaris KONI.
















