Oleh : Ismawan Amir (Alumni Unhas)
Kolai bukan nama yang sering disebut orang kota. Ia desa di Kecamatan Malua, Kabupaten Enrekang—sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Tapi bagi orang Enrekang, Kolai juga punya alamat kultural: tanah Duri, rumpun yang membentuk cara bicara, cara berjalan, dan cara menanggung beban tanpa banyak keluhan.
Dari kampung seperti itu, dua saudara berangkat ke medan yang tidak pernah ramah: operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung. Mereka kakak-adik, tetapi berada di tim yang berbeda.
Lukman ST, si kakak, berada di Tim SAR Gabungan. Tim inilah yang menarik, mengevakuasi, dan mengurus operasi dari hulu ke hilir—gabungan Basarnas sebagai koordinator, unsur TNI-Polri, organisasi pecinta alam seperti Mapala, dan potensi SAR lain yang turun
Dukungan unsur TNI juga nyata di lapangan, termasuk keterlibatan TNI AU dalam evakuasi udara dan TNI AD dalam rangkaian pencarian serta penanganan puing dan medan.
Saya mengenal Lukman bukan hari ini. Sejak kecil ia teman main dan teman sekolah saya di SDN 38 Kolai, Enrekang. Maka saat ia menulis di Facebook bahwa ini bukan tentang validasi, bukan tentang nama, bukan tentang sorotan kamera—saya percaya. Karena memang dari dulu begitu wataknya: bekerja dulu, bicara belakangan.
Status-status Lukman adalah kabar lapangan yang ditulis seperlunya, tanpa bumbu. Pernah ia mencatat, pada 22 Januari 2026 Tim SAR Gabungan menemukan enam korban—lima laki-laki dan satu perempuan—namun baru satu yang berhasil dievakuasi menuju posko di Desa Tompo Bulu. Setelah itu kabar lain muncul lebih singkat, lebih berat: “Alhamdulillah, 10 paket komplit.” Di medan, kalimat seperti itu bukan selebrasi. Ia penanda bahwa kerja paling sunyi sedang dilakukan: memulangkan korban kepada keluarganya, dengan hormat.
Di sisi lain operasi, adiknya, Ahmad Amat (Mapala 45), berada di tim vertical rescue—jalur paling tegak, yang tidak memberi ruang untuk salah pijak. Ia termasuk tim yang menemukan black box, lalu menyerahkan temuan itu melalui jalur berwenang. Ia juga ikut menemukan barang milik korban bernama Farhan bersama Dwi; semuanya diserahkan ke tim yang berwenang. Satu benda kecil ia perlakukan berbeda karena ia paham artinya bagi keluarga: headset Bluetooth. Ia serahkan langsung kepada keluarga, lengkap dengan koneksinya ke ponsel keluarga—jejak yang kadang lebih kuat daripada banyak kata.
Dua saudara dari Kolai itu tidak bekerja untuk menjadi cerita. Mereka bekerja karena ada keluarga yang menunggu kepastian. Kakaknya di Tim SAR Gabungan, adiknya di jalur vertical rescue. Dua tim, satu misi: menjemput korban di medan terjal Bulusaraung, lalu memulangkan manusia kepada keluarganya.
















