Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaPendidikan

Sekolah Pascasarjana Unhas Gelar Kuliah Tamu Internasional, Bahas Ketahanan dan Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana

×

Sekolah Pascasarjana Unhas Gelar Kuliah Tamu Internasional, Bahas Ketahanan dan Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan kuliah tamu bertema “Resilience, Governance and Continuity Challenges for Disaster Risk Reduction” pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dalam Bahasa Inggris, dihadiri oleh civitas akademika Unhas serta peserta dari berbagai negara, termasuk Jerman dan Arab Saudi.

Acara resmi dibuka oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH., Ph.D(L). Kuliah tamu ini menghadirkan pembicara utama Dr. Paul Barnes, peneliti dari Universitas Griffith, Australia, dan dimoderatori oleh Rufiqa Shari Abidin, PhD.

Example 500x700

Dr. Paul Barnes merupakan peneliti di bidang kebijakan dan praktik kebijakan pada Jaringan Lingkungan dan Kehidupan Sehat (Healthy Environments & Lives Network, HEAL) serta Pusat Lingkungan dan Kesehatan Populasi di Sekolah Kedokteran dan Kedokteran Gigi Universitas Griffith. Fokus kajiannya meliputi pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas institusional pada persimpangan pengurangan risiko bencana, perubahan iklim, serta tantangan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Dalam paparannya, Dr. Barnes mengkaji tantangan memperkuat ketahanan sistemik, keberlanjutan, dan kemampuan pengurangan risiko bencana di kawasan Indo-Pasifik. Ia menekankan bahwa dunia kini menghadapi lanskap ancaman yang semakin kompleks dan dinamis. Perubahan iklim serta pola cuaca yang tidak menentu menimbulkan dampak langsung maupun tidak langsung, mulai dari gangguan terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga risiko munculnya dan kembalinya penyakit menular.

“Bahaya alam berpotensi memicu krisis berjenjang — sosial, teknologi, maupun biologi. Peristiwa yang tampak kecil dapat berkembang menjadi bencana besar jika tidak ditangani sejak dini,” ujar Dr. Barnes.

Sebagai contoh, banjir yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu konflik sosial dan krisis pangan (tantangan sosial), terganggunya pasokan listrik dan jalur komunikasi (tantangan teknologi), hingga munculnya wabah penyakit menular (tantangan biologi).

Untuk meningkatkan kemampuan pengurangan risiko bencana, Dr. Barnes menekankan pentingnya kemampuan mengelola hal-hal yang tidak terduga serta mengidentifikasi titik kerentanan dan titik kritis sejak dini. Penguatan ketahanan harus didasarkan pada pemetaan modal manusia (keterampilan dan pelatihan), modal digital, serta modal fisik (infrastruktur), yang kemudian dirumuskan dalam perencanaan mitigasi dan strategi keberlanjutan.

Ia juga mengingatkan risiko-risiko baru yang muncul seiring perkembangan teknologi, antara lain kendaraan berbahan bakar hidrogen, kecerdasan buatan, robotika canggih, hingga teknologi genomik, yang juga perlu masuk dalam peta risiko masa depan.

“Pengelolaan risiko bukan pekerjaan satu pihak saja. Ini adalah upaya bersama yang melibatkan berbagai instansi, individu, dan lembaga,” tegas Dr. Paul Barnes di akhir pemaparan.

Kuliah tamu ini diharapkan dapat memperkaya wawasan para peserta, khususnya mahasiswa pascasarjana, dalam memahami pendekatan multidimensi dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan bencana dan perubahan iklim di tingkat global maupun regional.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *