Makassar, 27 Agustus 2026 — Ketahanan nasional di era disrupsi tidak lagi dapat dipandang sebatas persoalan pertahanan dan keamanan. Perkembangan teknologi digital, disinformasi, polarisasi sosial, perubahan geopolitik, hingga ancaman nonmiliter menuntut keterlibatan seluruh elemen bangsa.
Hal tersebut disampaikan Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal I DPP IKAL Lemhannas RI, saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan GELORA 2026, Kamis (27/8/2026) di Universitas Hasanuddin.
Kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAPEM) FISIP Universitas Hasanuddin tersebut mengangkat tema “Diskursus Ketahanan Nasional di Era Disrupsi: Kolaborasi Strategis dalam Menghadapi Dinamika Bernegara.” Dalam pemaparan yang disampaikan Prof. Sukri Palutturi, bahwa dari sudut pandang Astagatra, ketahanan nasional adalah sinergi dari seluruh aspek kehidupan bangsa. Melalui perspektif Astagatra, ketahanan nasional mencakup geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini juga semakin kompleks. Ancaman tidak hanya berbentuk konflik bersenjata, tetapi berkembang menjadi serangan siber, hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, polarisasi, krisis ekonomi, perubahan iklim, dan berbagai bentuk ancaman nonmiliter lainnya. Karena itu, penguatan ketahanan nasional membutuhkan perubahan paradigma dari pendekatan yang sekadar reaktif menjadi lebih antisipatif, preventif, adaptif, dan kolaboratif.
“Tidak ada aktor tunggal dalam membangun ketahanan nasional. Ketahanan nasional adalah kerja bersama,” menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan dalam materi tersebut.
Pemerintah berperan melalui kebijakan dan tata kelola, akademisi melalui pengetahuan dan inovasi, dunia usaha melalui ketahanan ekonomi, media melalui integritas informasi, serta masyarakat melalui penguatan resiliensisosial.
Prof. Sukri juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai benteng ketahanan nasional. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus membentuk generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, karakter kuat, nilai kebangsaan, serta kemampuan berinovasi.“Kampus bukan hanya tempat mencetak sarjana. Kampus adalah salah satu benteng ketahanan bangsa.”
GELORA 2026 Dialogue Kebangsaan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa soal pentingnya menjaga ketahanan negara. Untuk menghadapi dinamika era disrupsi sekaligus bergerak menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, media, dunia usaha, dan masyarakat.
Ketahanan bangsa harus dibangun bersama, diperkuat melalui seluruh Astagatra, dan diwujudkan oleh generasi yang tangguh, adaptif, dan sadar nasional.
















