MAKASSAR — Kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral ke Amerika Serikat tentu bukan tawaran yang datang setiap hari.
Bagi seorang akademisi muda, kesempatan tersebut bisa menjadi pintu menuju karier internasional.
Namun, Eko Hadi Sujiono memilih jalan berbeda.
Ketika mendapat peluang melanjutkan studi doktoral ke Tufts University, Amerika Serikat, Eko justru memilih tetap berada di Indonesia.
Ia memilih Institut Teknologi Bandung (ITB).
Keputusan itu diambil ketika ITB sedang membangun kekuatan riset melalui dukungan program University Research for Graduate Education (URGE) yang didukung Bank Dunia.
Bagi Eko, kesempatan tersebut bukan sekadar pilihan tempat kuliah.
Ada sesuatu yang ingin ia bangun.
Mendapat Tawaran ke Amerika
Saat itu, Eko tengah menekuni bidang fisika material padat atau solid state physics.
Ia mendapat tawaran dari Prof. Yaacov Shapira, peneliti yang bekerja di bidang tersebut.
Tawaran itu cukup menarik.
Selain kesempatan melanjutkan pendidikan di Tufts University, Eko mendapat dukungan pendanaan dan peluang menjadi asisten pengajar.
Artinya, ia tidak hanya memiliki kesempatan memperoleh pendidikan di Amerika Serikat, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengajar di lingkungan perguruan tinggi internasional.
Namun, Eko melihat ada pilihan lain yang tidak kalah penting.
Yakni membangun kemampuan riset di dalam negeri.
Pada saat itu, kelompok fisika ITB sedang memperoleh dukungan melalui program URGE.
Program yang didukung Bank Dunia tersebut dirancang untuk memperkuat pendidikan pascasarjana dan kapasitas penelitian di perguruan tinggi Indonesia.
Dukungan itu mencakup pengembangan pendidikan pascasarjana, fasilitas laboratorium, peralatan penelitian, hingga kegiatan riset.
Bagi seorang mahasiswa doktoral, situasi tersebut menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat menyelesaikan disertasi.
Ada kesempatan untuk ikut membangun budaya penelitian dari dalam negeri.
Eko akhirnya memilih ITB.
Memilih Laboratorium, Bukan Sekadar Kampus
Pendidikan doktoralnya kemudian mendapat dukungan melalui Beasiswa S3 Yayasan SDM Iptek, sebuah program yang lahir dari gagasan B.J. Habibie untuk memperkuat sumber daya manusia Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam perjalanan doktoralnya, Eko bekerja bersama Prof. Moehamad Barmawi sebagai promotor dan Prof. Tjia May On sebagai ko-promotor.
Keduanya dikenal memiliki kiprah panjang dalam pengembangan fisika dan penelitian material di Indonesia.
Di lingkungan tersebut, Eko tidak hanya belajar bagaimana menyelesaikan sebuah penelitian.
Ia juga belajar mengenai sesuatu yang lebih besar.
Bahwa penelitian tidak dibangun oleh satu orang.
Dibutuhkan laboratorium, peralatan, kelompok riset, pembimbing, mahasiswa, jejaring akademik, dan proses yang berlangsung terus-menerus.
Di situlah pengalaman doktoral Eko menjadi penting.
Ia tidak hanya memperoleh gelar akademik.
Ia juga mendapatkan pengalaman bagaimana sebuah ekosistem penelitian dibangun.
Meneliti Material untuk Teknologi Masa Depan
Penelitian doktoral Eko berkaitan dengan material yang memiliki kemampuan menghantarkan listrik secara sangat efisien pada kondisi tertentu.
Secara sederhana, riset tersebut berada dalam rumpun fisika material dan teknologi material elektronik.
Penelitian semacam ini membutuhkan ketelitian tinggi.
Material harus dipersiapkan dalam bentuk lapisan yang sangat tipis.
Suhu, komposisi, struktur dan kondisi proses harus dikendalikan secara cermat.
Sedikit perubahan dalam proses dapat memengaruhi karakteristik material yang dihasilkan.
Bagi masyarakat awam, penelitian seperti itu mungkin terlihat jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, dari penelitian material semacam inilah berbagai teknologi dapat berkembang.
Material baru dapat menjadi bagian dari pengembangan perangkat elektronik, sistem energi, sensor, teknologi komunikasi, hingga berbagai aplikasi teknologi lainnya.
Dengan kata lain, penelitian yang berlangsung di laboratorium dapat menjadi fondasi bagi teknologi yang digunakan masyarakat bertahun-tahun kemudian.
Selesai Doktor, Bukan Berarti Berhenti
Eko menyelesaikan pendidikan doktornya pada 2001.
Pengalaman selama di ITB memberinya bekal yang lebih luas daripada sekadar kemampuan menyelesaikan penelitian.
Ia mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana sebuah laboratorium bekerja, bagaimana kelompok penelitian dibangun, serta bagaimana jaringan akademik dapat dikembangkan.
Dan menariknya, keputusan untuk tetap menempuh pendidikan doktoral di Indonesia ternyata tidak menutup jalan menuju dunia internasional.
Justru sebaliknya.
Jejaring yang terbentuk selama pendidikan doktoral kemudian membuka kesempatan berikutnya.
Atas undangan Prof. Horst Rogalla yang diteruskan oleh Prof. Tjia May On, Eko melanjutkan penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda.
Pengalaman tersebut mempertemukan pengalaman riset di Indonesia dengan lingkungan penelitian internasional.
Indonesia dan Dunia Tidak Harus Dipertentangkan
Perjalanan Eko memperlihatkan satu hal menarik.
Menempuh pendidikan dan membangun riset di Indonesia tidak berarti harus menutup diri dari dunia internasional.
Sebaliknya, keduanya dapat saling memperkuat.
Kampus di Indonesia dapat menjadi tempat membangun fondasi.
Sementara jejaring internasional dapat menjadi jalan untuk memperluas kolaborasi, pengetahuan, teknologi dan pengalaman.
Model seperti inilah yang kemudian menjadi semakin penting bagi perguruan tinggi saat ini.
Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan.
Perguruan tinggi juga harus mampu menghasilkan pengetahuan, teknologi dan solusi.
Apalagi ketika persoalan yang dihadapi masyarakat semakin kompleks.
Energi.
Air.
Lingkungan.
Material baru.
Transformasi teknologi.
Semuanya membutuhkan riset yang tidak berhenti di laboratorium.
Dari Laboratorium ke Persoalan Masyarakat
Dalam perjalanan akademiknya, perhatian Eko kemudian berkembang pada sejumlah bidang penelitian yang memiliki kaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Di antaranya material karbon, penyimpanan energi dan pengolahan air.
Tema-tema tersebut memiliki relevansi yang semakin kuat di tengah kebutuhan terhadap teknologi energi yang lebih efisien, material baru, serta solusi terhadap persoalan lingkungan dan air.
Di sinilah pengalaman membangun riset menjadi menarik untuk dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Sebab, universitas tidak hanya membutuhkan akademisi yang mampu menghasilkan publikasi.
Universitas juga membutuhkan orang yang mampu menghubungkan penelitian dengan persoalan nyata.
Pengetahuan yang lahir di laboratorium harus memiliki peluang untuk keluar dari laboratorium.
Masuk ke industri.
Masuk ke masyarakat.
Menjadi teknologi.
Atau setidaknya menjadi dasar bagi kebijakan dan inovasi baru.
Apa yang Bisa Dibangun untuk UNM?
Perjalanan akademik tersebut kini menjadi bagian dari rekam jejak Eko Hadi Sujiono sebagai akademisi.
Dalam konteks dinamika Pemilihan Rektor UNM periode 2026–2030, pengalaman tersebut tentu menjadi salah satu bagian yang menarik untuk dicermati warga kampus.
Namun, pengalaman masa lalu pada akhirnya harus diuji dengan pertanyaan yang lebih besar.
Apa yang bisa dibangun dari pengalaman tersebut untuk masa depan universitas?
Tantangan UNM ke depan tidak hanya berkaitan dengan jumlah publikasi atau peringkat perguruan tinggi.
Ada persoalan yang lebih luas.
Bagaimana memperkuat riset?
Bagaimana membuka ruang bagi dosen muda?
Bagaimana membuat mahasiswa semakin dekat dengan dunia kerja dan inovasi?
Bagaimana menghubungkan laboratorium dengan kebutuhan industri?
Bagaimana membuat hasil penelitian lebih banyak dirasakan masyarakat?
Dan bagaimana membawa kekuatan akademik UNM ke tingkat nasional maupun internasional tanpa kehilangan akar di Sulawesi Selatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memahami birokrasi perguruan tinggi.
Tetapi juga memahami bagaimana ilmu pengetahuan dibangun.
Pilihan yang Berujung pada Sebuah Pelajaran
Pilihan Eko untuk tetap melanjutkan doktoralnya di Indonesia pada akhirnya menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Ia tidak memilih antara Indonesia atau dunia.
Ia memilih membangun fondasi di Indonesia, kemudian membawa pengalaman tersebut ke ruang internasional.
Dari Bandung ke Belanda.
Dari laboratorium ke jejaring global.
Dan dari penelitian material menuju persoalan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Perjalanan tersebut memberikan satu pelajaran sederhana.
Membangun dari dalam negeri tidak berarti berpikir secara lokal.
Justru dari fondasi yang kuat di dalam negeri, seorang akademisi dapat membangun jejaring yang lebih luas dan membawa pengetahuan global kembali untuk memperkuat institusinya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar perguruan tinggi bukan hanya bagaimana mengirim orang terbaiknya keluar negeri.
Tetapi juga bagaimana memastikan orang-orang terbaik yang telah belajar dari dunia dapat kembali membawa pulang pengetahuan, jejaring, dan pengalaman untuk membangun kampusnya.
Dan di situlah perjalanan seorang akademisi dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih besar:
bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang apa yang dapat dibangun untuk generasi setelahnya.
















