Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Mappatoppo : Menyematkan Kemuliaan, Meneguhkan Akhlak Haji

×

Mappatoppo : Menyematkan Kemuliaan, Meneguhkan Akhlak Haji

Sebarkan artikel ini

Oleh : Fatmawati Hilal (Sekretaris PB DDI/Jamaah Haji Kloter UPG 5)

Mekkah,- Siang itu, selepas Jumat, 29 Mei 2026, suasana hotel tempat jamaah beristirahat terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Lorong hotel yang biasanya ramai oleh langkah-langkah jamaah kini berubah menjadi ruang penuh kehangatan dan haru. Wajah-wajah yang sebelumnya letih oleh panjangnya rangkaian ibadah haji tampak memancarkan ketenangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Example 500x700

Jamaah rombongan 10, Kloter UPG 5 duduk bersama dalam lingkar kebersamaan. Ada yang bercanda kecil untuk mencairkan suasana. Ada yang tertawa bahagia. Namun tak sedikit pula yang diam, menyimpan getar rasa di dada, sementara mata mereka mulai berkaca-kaca saat prosesi adat mappatoppo akan dimulai.

Tradisi itu bukan sekadar seremoni.Ada jejak pengorbanan di baliknya. Ada doa-doa yang dipanjatkan sepanjang thawaf, ada air mata di Arafah, ada langkah-langkah lelah di Mina, dan ada kerinduan panjang kepada keluarga yang dibawa hingga ke Tanah Suci.

Mengawali prosesi, saya menyampaikan kepada jamaah bahwa kegiatan mappatoppo ini sengaja didesain berbeda. Kami ingin tradisi ini tidak hanya dilaksanakan secara turun-temurun, tetapi juga dipahami makna filosofisnya secara utuh.

Sebab kami menyadari, di tengah masyarakat terkadang muncul kesalahpahaman; seolah-olah ada kewajiban tertentu dalam tradisi ini yang menentukan sempurna atau tidaknya haji seseorang.

Karena itu saya menegaskan bahwa mappatoppo bukan bagian dari rukun ataupun wajib haji. Ia hanyalah tradisi penghormatan yang tumbuh dari perpaduan indah antara syariat Islam dan budaya Bugis-Makassar yang sangat menjunjung tinggi kehormatan, keteladanan, dan kemuliaan akhlak.

Terus terang, tradisi ini sendiri masih terasa asing bagi saya.Karena itulah sejak awal perjalanan haji, saya sempat mengirim pesan kepada Anregurutta Faried Wadjedy, majelis Syuyukh Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) dan Pimpinan Ponpes DDI Mangkoso, memohon doa dan petunjuk apabila tradisi ini benar-benar dilaksanakan bersama jamaah.

Alhamdulillah, Anregurutta merespons dengan penuh kasih dan perhatian. Beliau mengirimkan teks doa yang begitu dalam maknanya; doa yang memohon kepada Allah agar seluruh jamaah dianugerahi haji yang mabrur, sa’i yang masykur, dosa yang maghfur, amal ibadah yang maqbul, dan segala usaha yang tidak pernah merugi di sisi Allah SWT.

Dalam kesempatan itu pula, penjelasan mendalam tentang filosofi mappatoppo atau mappatompo disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Shuhufi. Beliau menjelaskan bahwa mappatoppo sejatinya adalah peneguhan identitas spiritual seorang haji.

Seseorang yang kembali dari Baitullah bukan sekadar pulang membawa gelar “Haji”, tetapi pulang membawa amanah ruhani.
Dalam pandangan masyarakat Bugis-Makassar, orang yang telah berhaji diharapkan menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih bijaksana, lebih menjaga lisan, lebih dekat kepada Allah, dan lebih mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.

Mappatoppo sesungguhnya adalah “pengingat publik” bahwa perjalanan haji harus melahirkan akhlak baru.

Prof Shuhufi juga menjelaskan bahwa budaya Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi nilai siri’—harga diri dan kehormatan. Maka seseorang yang telah memenuhi panggilan Allah ke Baitullah dipandang memperoleh kemuliaan lahir dan batin.

Karena itulah, mappatoppo menjadi bentuk penghormatan keluarga dan masyarakat atas perjuangan ibadah, pengorbanan biaya dan tenaga, serta keberhasilan menyempurnakan rukun Islam. Tak heran jika suasananya selalu haru, penuh doa, dan dipenuhi rasa syukur. Namun kemuliaan itu bukan tanpa amanah.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, seorang haji tidak hanya dihormati, tetapi juga dibebani tanggung jawab moral yang besar. Ia diharapkan menjadi penengah ketika ada konflik, menjadi tempat bertanya tentang agama, menjadi pembawa kesejukan di tengah masyarakat, dan menjadi teladan kehidupan yang jujur serta sederhana.

Karena itu, mappatoppo mengandung pesan yang sangat dalam:“Engkau kini bukan hanya milik keluargamu, tetapi juga menjadi panutan umat.”

Setelah berdiskusi bersama suami Prof. Shuhufi, akhirnya kami bersepakat melaksanakan mappatoppo. Namun kami merasa, tradisi ini tidak boleh berhenti sebagai simbol budaya semata. Jamaah harus memahami ruh di baliknya. Sebab dalam tradisi Bugis-Makassar, mappatoppo bukan sekadar menyematkan cipo’-cipo’, songko’-songko’, atau songko’ haji di kepala seseorang yang telah berhaji. Yang sesungguhnya disematkan adalah amanah ruhani. Yang diteguhkan adalah tanggung jawab akhlak.

Di hadapan jamaah, saya menyampaikan dengan penuh harap:
“Jangan sampai setelah berhaji, kita tidak mau lagi menjadi pelayan umat, tetapi justru hanya ingin dilayani. Jangan sampai kita merasa harus selalu diberi tempat terhormat dalam setiap kegiatan masyarakat. Tidak mau lagi cuci piring jika ada hajatan. Termasuk tidak mempertontonkan auratnya. Jangan sampai gelar haji lebih tinggi daripada akhlak kita.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.Beberapa jamaah tampak menundukkan kepala. Ada yang perlahan mengusap air mata. Mungkin setiap hati sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Mungkin setiap jiwa sedang mengingat dosa, perjalanan hidup, dan janji-janji yang ingin diperbarui di hadapan Allah SWT.

Sebab sesungguhnya, haji bukan akhir perjalanan spiritual.Haji adalah awal kehidupan baru.

Sebagaimana dijelaskan Prof. Dr. Muhammad Shuhufi, mappatoppo bukanlah perayaan selesainya ibadah haji semata, tetapi simbol dimulainya kehidupan yang lebih bersih, lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Tradisi ini menghidupkan syiar Islam. Anak-anak dan generasi muda melihat bahwa haji adalah kemuliaan yang layak diperjuangkan, bukan sekadar perjalanan biasa.

Tradisi ini juga menguatkan ikatan sosial. Keluarga besar berkumpul, saling mendoakan, mempererat silaturahmi, dan merasakan syukur bersama.

Namun yang paling utama, mappatoppo sejatinya menanamkan nilai akhlak. Yang dimuliakan bukan pakaian hajinya.
Bukan pula gelarnya. Tetapi perubahan akhlaknya.Karena itu, masyarakat Bugis- Makassar dahulu sangat menjaga agar seorang haji tidak merusak kehormatannya dengan perilaku buruk.

Ada pesan moral yang begitu dalam:
“Jangan sampai gelar hajimu lebih tinggi daripada akhlakmu.”
Setelah penyampaian makna dan filosofi tersebut, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan ulang syahadat serta ikrar keridhaan kepada Allah SWT sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul.

Siang itu, satu per satu jamaah kemudian disematkan cipo’-cipo’ dan songko’-songko’. Tangis pun pecah di beberapa sudut ruangan.

Barangkali mereka sedang mengingat perjalanan panjang selama berhaji. Tentang panasnya Arafah, sesaknya Muzdalifah, langkah-langkah lelah di Mina, doa-doa yang dipanjatkan di depan Ka’bah, dan rindu yang selama ini dipendam kepada keluarga di tanah air.

Boleh jadi dalam diamnya, mereka sedang berjanji kepada Allah untuk pulang menjadi manusia yang lebih baik. Siang itu, mappatoppo tidak lagi sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi ruang muhasabah. Ruang untuk meneguhkan niat. Ruang untuk memperbarui hati.

Semoga seluruh jamaah senantiasa dijaga Allah SWT dalam kemabruran hajinya. Semoga kami pulang bukan sebagai manusia yang haus penghormatan, tetapi sebagai hamba yang lebih rendah hati, lebih tulus dalam ibadah, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Sebab kemuliaan seorang haji sejatinya bukan terletak pada gelarnya, melainkan pada akhlaknya setelah kembali dari Baitullah.(Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *