Makassar — Upaya pengendalian tuberkulosis (TB) tidak lagi bisa dipandang semata sebagai isu medis. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Screening Film dan Talkshow: Tuberculosis in Makassar & Lessons From Communicable Disease Control and Prevention in Montana, USA yang telah digelar di American Corner Makassar. Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dan pemuda ini menghadirkan perspektif lintas negara, sekaligus menegaskan bahwa TB adalah persoalan kompleks yang berakar pada faktor sosial, ekonomi, dan budaya.
Amber Johnson, spesialis komunikasi kesehatan dari Montana, Amerika Serikat, membuka diskusi dengan membandingkan situasi TB di negaranya dengan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa TB bukanlah penyakit dominan di wilayahnya, dengan jumlah kasus yang relatif kecil dan tidak menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan mendasar yang dihadapi Amerika Serikat tetap serupa: ketimpangan sosial dan kemiskinan yang membatasi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
“Tanpa akses yang adil dan terjangkau, intervensi kesehatan tidak akan mencapai dampak optimal,” tegas Amber. Ia menekankan bahwa akar persoalan kesehatan kerap berada di luar sektor medis, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih luas dan inklusif.
Lebih jauh, Amber juga menyoroti perbedaan tantangan kesehatan antara kedua negara. Di Amerika Serikat, fokus lebih banyak pada penyakit kronis serta tingginya angka kematian akibat bunuh diri dan alkoholisme. Namun, ia menggarisbawahi satu benang merah yang sama: stigma. Menurutnya, stigma terhadap individu dengan kecanduan alkohol membuat banyak orang enggan mencari bantuan. Fenomena serupa terjadi di Indonesia, di mana stigma terhadap pasien TB masih menjadi hambatan besar dalam penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan.
“Stigma adalah hambatan yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata,” ujarnya.
Dalam sesi berbagi praktik baik, Amber menyoroti keberhasilan Amerika Serikat dalam menekan konsumsi rokok melalui kebijakan harga tinggi, larangan merokok di ruang publik, dan kolaborasi lintas sektor. Ia menilai pendekatan serupa relevan diterapkan di Indonesia, mengingat merokok merupakan faktor risiko signifikan yang memperburuk kondisi pasien TB.
Pengalaman lapangannya di Makassar memperkuat pesan tersebut. Saat berdialog dengan dua pasien TB, Amber mendapatkan jawaban yang sama ketika menanyakan pesan mereka kepada masyarakat: “Jangan merokok.”
Diskusi juga diwarnai cerita reflektif yang ia sampaikan di awal sesi tentang topi koboi yang dikenakannya. Amber mengaitkannya dengan sejarah John B. Stetson, pembuat topi yang pernah menderita TB dan pindah ke wilayah berudara kering untuk pemulihan. Dari situ lahir desain topi koboi ikonik—sebuah simbol bahwa bahkan dalam keterbatasan, inovasi bisa tumbuh.
Sementara itu, Dr. Andi Julia Junus dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan memaparkan situasi TB di daerah. Ia menyebutkan bahwa Sulawesi Selatan termasuk delapan besar nasional dalam jumlah kasus TB, dengan Kota Makassar sebagai penyumbang terbesar. Ia menekankan pentingnya peran komunitas dalam mempercepat penemuan kasus dan pendampingan pasien.
“Komunitas seperti Yamali TB menjadi ujung tombak dalam menjangkau masyarakat yang tidak terakses layanan formal,” jelasnya.
Ketua Yayasan Masyarakat Peduli TB (Yamali TB), Kasri Riswadi, menegaskan bahwa TB bukan sekadar persoalan kesehatan, sehingga tidak bisa diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan. Ia menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor—mulai dari pendidikan, ekonomi, lingkungan, hingga peran aktif pemuda dan mahasiswa. Dengan keterlibatan lebih banyak pihak, ia percaya juga akan banyak pendekatan dan inovasi dalam pengentasan TB layaknya era pandemi Covid-19.
“Kalau kita ingin mengentaskan TB, maka kita harus melihatnya sebagai persoalan bersama, bukan hanya urusan dinas atau fasilitas kesehatan,” tegas Kasri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan pemuda tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga diposisikan sebagai agen perubahan. Dengan pendekatan storytelling, dialog publik, dan pembelajaran lintas budaya, kegiatan ini menegaskan satu hal: melawan TB membutuhkan lebih dari sekadar obat—ia membutuhkan keberanian untuk membuka stigma, memperbaiki ketimpangan, dan membangun solidaritas sosial.
















