Padanglampe, 2 Agustus 2025 –Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad, MA, menyampaikan taushiyah bertema “Karakter Sabar Nabi Ayyub a.s” dihadapan mahasiswa Pencerahan Qalbu Angkatan IX di Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlishin, Padanglampe, Sabtu malam (2/8/2025). Ia juga mengajak lima ratusan mahasiswa untuk membuka link pendaftaran maba UMI www.spmb.umi.ac.id dan menyebarkan kepada group WA keluarga dan teman, ajaknya.
Kegiatan yang diikuti oleh lima ratusan mahasiswi UMI dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Farmasi UMI ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan spiritual. Dalam taushiyahnya, Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad menekankan pentingnya sabar sebagai fondasi dalam membentuk pribadi muslim sejati, terlebih bagi mahasiswa calon profesional di bidang kesehatan.
“Sabar bukan berarti diam. Sabar adalah kekuatan batin yang membentuk akhlak, menjaga hati tetap tenang di tengah tekanan, dan menjadikan kita tahan uji dalam proses menuntut ilmu, ibadah, zikir dan pengabdian,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa karakter sabar adalah salah satu sifat utama para nabi dan ulama terdahulu, yang menjadi bekal dalam menghadapi dinamika hidup, terutama dalam dunia pendidikan dan pelayanan umat.
Ia mencontohkan Nabi Ayub a.s yang diuji dengan penyakit yang menjijikkan. Sekujur tubuhnya hancur, membusuk, dan dikerumuni ulat belatung. Hal yang lebih menyakitkan ialah istrinya pun ikut mengucilkannya. Nabi Ayub a.s sabar menjalani penyakit yang dideritanya, meskipun sudah berusaha mencari tabib untuk menyembuhkan penyakitnya.
Dikatakan Nabj Ayyub a.s juga sabar ketika dibuang dan dikucilkan masyarakat, meskipun bersedih karena keluarga terdekatnya ikut mengucilkannya. Kesabaran Nabi Ayub pada tingkat ini disebut shabir. Setelah sekian lama hidup di gua pengasingan, ia mulai bersahabat dengan lingkungannya. Ia juga bersahabat dengan penyakitnya, termasuk kerumunan belatung yang menggerogoti dirinya, jelasnya.
Ia pernah memungut kembali belatung yang jatuh dari dirinya dengan mengatakan, kalian dulu musuhku, sekarang menjadi sahabatku. Hanya kalianlah yang mau menemani aku dalam kesunyian gua ini. Bahkan, ia menikmati penyakit dan kesendiriannya di dalam gua. Kesabaran Nabi Ayub pada tingkat ini sudah dapat disebut mashabir, sebutnya.
Suatu ketika, Nabi Ayub diperdengarkanlah sebuah teriakan, “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS Shad [38]: 42). Setelah itu tiba-tiba memancar air jernih dan sejuk dari bekas tumitnya. Nabi Ayub minum dan mandi dari air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar dalam dirinya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah ke mana. Bahkan, bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayub a.s. Ia lalu sembah sujud atas kasih sayang Allah SWT terhadap dirinya. Sumur itu sudah dipugar tidak jauh dari makam Imam al-Nawawi, pengarang kitab wajib pesantren, Riyadh al-Shalihin, di luar Kota Suriah.
Kesabaran di tingkat awal (shabir) masih menyisihkan sedikit keluhan. Sedangkan, kesabaran di tingkat akhir (mashabir) sudah tidak ada lagi keluhan, bahkan sudah bersahabat dengan penyakit dan penderitaan. Kita sering mendengarkan ungkapan: “Saya sudah memaafkan, tetapi belum bisa melupakan.” Itu ungkapan shabir. Ketika ia memaafkan dan kembali ke titik nol itu sudah mashabir. Orang-orang yang sudah sampai ke tingkat mashabir biasanya akan tampil beberapa keajaiban dalam dirinya. Itu tidak heran karena ia sudah begitu dekat dengan Tuhan sebagaimana diungkapkan dalam ayat: Innallah ma’a al-shabirin (Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang sabar) (QS al-Baqarah [2]: 153).
Kata shabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, masih memberi batas, dan sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap. Sedangkan, kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen tanpa batas. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir. Sedangkan, shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma yang terakhir ialah al-Sabur.
Allah SWT disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya. Sekufur dan sezalim apa pun hamba, Ia tetap tidak bergeming dan tetap bersedia untuk memaafkannya. Ini buktinya bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang daripada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam. Semoga kita semakin hari semakin matang sehingga memiliki kemampuan untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, termasuk sifat kesabaran-Nya. Wallahu a’lam.
Acara ini turut dihadiri oleh Direktur Pesantren Darul Mukhlishin, Dr. KH. Ahmad Basit, Lc., MA, beserta para Wakil Direktur, para dosen pembimbing, dan pengasuh pondok. Seluruh peserta tampak antusias menyimak pesan-pesan hikmah dan motivasi yang disampaikan.
Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad juga mengingatkan kepada para peserta agar menjadikan masa karantina spiritual di Padanglampe ini sebagai momentum memperkuat iman, memperbaiki niat menuntut ilmu, dan menanamkan nilai-nilai ihsan dalam diri. “Dengan sabar, hati akan kuat. Dengan sabar, ilmu akan kokoh. Dan dengan sabar pula, jalan menuju keberkahan akan terbuka luas,” tutup beliau dengan penuh semangat.
Kegiatan Pencerahan Qalbu ini merupakan bagian dari program wajib bagi mahasiswa baru UMI, yang bertujuan membentuk karakter intelektual muslim yang unggul, religius, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan umat.
Kegiatan Pencerahan Qalbu ini merupakan bagian dari program wajib bagi mahasiswa baru UMI, yang bertujuan membentuk karakter intelektual muslim yang unggul, religius, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan umat.
Irfan Suba Raya