Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Tangan Putin di Balik Drone Iran

6
×

Tangan Putin di Balik Drone Iran

Sebarkan artikel ini

Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate

Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, baru saja membuka ‘tabir gelap’ koordinasi militer antara Moskow dan Teheran.

Example 500x700

Dalam kunjungannya ke pusat komando militer Inggris di Northwood, para perwira melaporkan bahwa pilot drone Iran dan proksinya kini mengadopsi taktik “dari Rusia”, yaitu menerbangkan Shahed lebih rendah agar lebih efektif menghantam target (Sabbagh & Borger, Guardian, 12 Maret 2026).

Ini bukan sekadar transfer teknologi, tetapi integrasi taktik perang yang memperluas dimensi konflik.

Laporan CNN pada 11 Maret 2026 memperkuat temuan ini. Seorang pejabat intelijen Barat menyatakan bahwa “dukungan yang bersifat umum kini berubah menjadi lebih mengkhawatirkan, termasuk strategi penargetan drone yang digunakan Rusia di Ukraina” (The Moscow Times, 11 Maret 2026). Bahkan The Washington Post sebelumnya melaporkan bahwa Rusia berbagi intelijen sensitif dengan Iran, termasuk lokasi kapal perang dan pesawat AS di Timur Tengah.

Mengutip NPR (10 Maret 2026), dalam sebuah wawancara televisi, Menlu Iran Abbas Araghci menjelaskan bahwa kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukan sesuatu yang baru dan rahasia.

“Kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah hal baru. Itu bukan rahasia. Itu telah terjadi di masa lalu, masih ada sekarang, dan akan berlanjut di masa depan,” kata dia. Relasi itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga saat ini, dan akan berlanjut hingga masa depan.

Berdasarkan relasi tersebut, kita bisa membacanya sebagai berikut.

Pertama, perang AS-Israel versus Iran ini mau tak mau telah menjadi ajang uji coba poros Rusia-Iran.

Tidak lagi Iran sendirian. Sejak invasi Ukraina 2022, Iran telah memasok ribuan drone Shahed ke Rusia. Kini, Putin membayar utang itu dengan “tangan tersembunyi”-nya—memberikan saran taktis yang membuat drone Iran semakin mematikan.

Pejabat intelijen Barat mengkonfirmasi bahwa “dukungan yang lebih umum kini berubah menjadi lebih mengkhawatirkan” (The Moscow Times, 2026). Serangan terhadap pangkalan Barat di Erbil, Irak, yang menewaskan satu orang dan membakar dua kapal tanker, adalah bukti nyata bahwa kerja sama militer ini telah mencapai tingkat operasional yang mengancam stabilitas kawasan.

Kedua, Putin diasumsikan sebagai ‘satu-satunya pemenang ekonomi dari perang ini’.

Healey dengan tajam mencatat bahwa melonjaknya harga minyak hingga 100 dolar per barel akibat penutupan Selat Hormuz justru menguntungkan Rusia. “Putin mendapatkan pasokan dana baru untuk perang brutalnya di Ukraina” (Sabbagh & Borger, 2026).

Ironisnya, Donald Trump merespons dengan pernyataan kontroversial bahwa AS “menghasilkan banyak uang” dari kenaikan harga minyak—sebuah sikap yang mengabaikan penderitaan kelas pekerja dan sekutu Eropa yang tercekik energi.

Ketiga, perang ini menunjukkan impotensi koalisi Barat sekaligus peluang bagi Ukraina untuk menunjukkan relevansinya.

Dua kapal tanker dibakar, Selat Hormuz lumpuh, namun AS mengakui belum mampu mengawal kapal dagang. Inggris hanya memiliki HMS Dragon yang masih dalam perjalanan menuju Siprus (Sabbagh & Borger, 2026). Sementara Iran dengan percaya diri melalui jubir Ali Larijani menantang: “Kami tidak akan mengendur sampai Anda menyesali kesalahan perhitungan besar ini.”

Menariknya, The Moscow Times (11 Maret 2026) melaporkan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengirim spesialis pertahanan udara ke negara-negara Teluk untuk membantu menangkis serangan drone Iran.

Kyiv memanfaatkan pengalaman lebih dari empat tahun perang melawan drone Shahed Rusia untuk memposisikan diri di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Ini adalah ironi sejarah, yakni Ukraina, negeri yang dibombardir ribuan drone Iran oleh Rusia, kini membantu melawan drone yang sama, kali ini dengan taktik yang disempurnakan Rusia.

Putin mungkin tidak mengirim tentaranya ke Iran, tetapi doktrin, taktik, dan kepentingan ekonominya kini mengalir dalam darah konflik ini. Perang di Timur Tengah telah menyatu dengan perang di Ukraina, dan Barat tampak kehilangan kendali atas keduanya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *