Oleh:Munawir Kamaluddin
Ada orang yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.Ada yang mudah mencintai dengan sangat dalam, lalu membenci dengan sangat tajam.Ada yang menangis bukan karena lemah, tetapi karena jiwanya kelelahan menahan badai yang tak pernah dilihat orang lain.
Di antara realitas psikologis yang jarang dibicarakan secara terbuka adalah Borderline Personality Disorder (BPD). Secara sederhana, BPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan emosi yang sangat intens dan tidak stabil, ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, relasi yang ekstrem (antara sangat mencintai dan sangat membenci), serta impulsivitas yang kadang merusak diri sendiri.
Ia bukan sekadar “baper”. Ia adalah luka batin yang sering berakar dari trauma, pengabaian, atau pengalaman kehilangan yang mendalam. Dalam realitas sosial, penderita BPD sering disalahpahami: dianggap dramatis, tidak konsisten, atau sulit diatur. Padahal, di balik itu ada jiwa yang sedang berjuang untuk merasa aman.
Lalu di mana Ramadhan berdiri dalam lanskap ini?. Ramadhan bukan sekadar bulan lapar; ia adalah bulan penataan jiwa. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”(QS. al-Baqarah: 183)
Taqwa bukan hanya soal takut kepada Allah, tetapi kesadaran batin yang stabil, kesadaran yang menghadirkan kendali diri. Dalam konteks BPD, kendali emosi adalah medan perjuangan yang nyata.
Al-Qur’an berbicara tentang jiwa dengan kedalaman yang luar biasa:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”(QS. asy-Syams: 7–10).
Ayat ini jarang dikaitkan dengan kesehatan mental, padahal ia berbicara tentang dinamika jiwa, tentang potensi gelap dan terang dalam diri manusia.
Ramadhan melatih regulasi diri: menahan lapar, menahan amarah, menahan impuls. Rasulullah SAW. bersabda:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
“Jika salah seorang dari kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini adalah terapi spiritual bagi impulsivitas. Ia mengajarkan pause, jeda suci sebelum reaksi.Namun penting ditegaskan bahwasanya Islam tidak pernah menafikan realitas psikologis. Rasulullah SAW. sendiri mengakui adanya luka batin. Dalam doanya beliau bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.”
(HR. al-Bukhari).
Doa ini menunjukkan bahwa rasa cemas dan sedih adalah bagian dari kemanusiaan,bukan tanda lemahnya iman. Dalam konteks sosial, kita sering keliru. Kita menuntut orang yang terluka untuk segera stabil, tetapi tidak memberi ruang aman untuk sembuh. Padahal Allah sendiri menggambarkan rahmat-Nya dengan kelembutan:
كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ
“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.”(QS. al-An‘am: 54)
Jika Allah saja mendahulukan rahmat, mengapa kita mendahulukan stigma?.Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
الناس أعداء ما جهلوا
“Manusia adalah musuh terhadap apa yang tidak mereka pahami.”
BPD sering menjadi korban ketidaktahuan. Orang tidak memahami, lalu menghakimi.
Ramadhan seharusnya mengubah cara kita memandang jiwa-jiwa yang rapuh. Ia bukan hanya bulan ibadah individual, tetapi bulan empati sosial.
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Rendahkanlah sayapmu (bersikap lembutlah) kepada orang-orang beriman.”(QS. al-Hijr: 88).
Ayat ini jarang dibahas dalam konteks kesehatan mental, padahal ia berbicara tentang kelembutan relasional, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jiwa yang tidak stabil.
Ramadhan juga mengajarkan harapan. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. az-Zumar: 53).
Ayat ini adalah pelukan ilahi bagi siapa pun yang merasa dirinya rusak atau tak terkendali. Imam Ibn al-Qayyim berkata:
في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله
“Dalam hati ada kegelisahan yang tidak akan rapi kecuali dengan menghadap kepada Allah.”
Namun menghadap kepada Allah bukan berarti menolak terapi atau bantuan profesional. Islam mendorong ikhtiar. Rasulullah SAW. bersabda:
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
“Berobatlah wahai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”(HR. Abu Dawud)
Kesehatan mental adalah bagian dari amanah menjaga diri.Maka Ramadhan dan BPD bukan dua hal yang saling menegasikan. Ramadhan bisa menjadi ruang latihan regulasi emosi, ruang refleksi, ruang rahmat. Ia tidak menghapus gangguan kepribadian secara instan, tetapi ia menanam benih kesadaran dan pengendalian.
Pertanyaannya.
kini lebih dalam: Apakah kita menjadikan Ramadhan sebagai bulan penghakiman, atau bulan pemahaman?
Apakah kita memaksa jiwa yang terluka untuk sempurna, atau kita menjadi sebab ia merasa aman?
Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai siapa yang paling stabil emosinya, tetapi siapa yang paling jujur dalam perjuangannya.
﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
(QS. al-Baqarah: 286).
Dan mungkin, di situlah letak harapan terbesar, bahwa setiap jiwa. betapapun rapuhnya tetap memiliki ruang untuk tumbuh, dan Ramadhan adalah musim semi bagi hati yang selama ini merasa musim dingin tak pernah berakhir.
Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏MK
SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin
















