Oleh : Fatmawati Hilal (Anggota Komisi Prempuan,Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI Sulsel)
Makassar, – Setiap Ramadan hadir, ia tidak sekadar membawa perubahan suasana, tetapi menghadirkan undangan untuk mengubah makna hidup kita.
Bulan Ramadan sering disambut dengan gegap gempita ibadah—masjid yang lebih ramai, tilawah yang lebih intens, doa yang lebih panjang dan khusyuk.
Namun sesungguhnya, Ramadan bukan sekadar peristiwa spiritual yang bersifat individual. Ia adalah proyek peradaban yang dimulai dari transformasi paling mendasar: transformasi manusia dan keluarganya.
Peradaban tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar, dari panggung politik atau institusi formal. Sejarah menunjukkan bahwa nilai-nilai besar tumbuh dari ruang yang tampak sederhana namun menentukan: keluarga.
Dari meja sahur yang sederhana, dari doa bersama menjelang berbuka, dari ayah yang mengimami shalat, dan dari ibu yang menanamkan kelembutan dalam keseharian—di situlah karakter dibentuk, diteladankan, dan diwariskan. Rumah bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah pusat pembentukan peradaban.
Dalam perspektif pendidikan, Ramadan adalah madrasah. Ia menghadirkan kurikulum ilahiah yang utuh dan sistematis. Puasa melatih pengendalian diri dan kejujuran, karena ia adalah ibadah yang tersembunyi. Qiyamullail menumbuhkan kedisiplinan dan keteguhan. Zakat dan sedekah memperkuat solidaritas sosial dan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
Tilawah Al-Qur’an membangun kesadaran wahyu sebagai sumber nilai dan arah hidup. Minimal ada 4 kurikulum yang harus dimaksimalkan dalam bulan Ramadan, yaitu kurikulum spiritualitas, kurikulum akhlak, kurikulum sosial, dan kurikulum literasi digital. Seluruh perangkat ini membentuk struktur pendidikan spiritual yang komprehensif.
Namun kurikulum tersebut tidak akan bermakna jika berhenti pada praktik personal. Nilai-nilai Ramadan menemukan ruang internalisasi paling nyata di dalam rumah. Jika masjid adalah pusat ibadah, maka keluarga adalah pusat penanaman dan pembiasaan nilai.
Di rumah, anak belajar bukan hanya tentang tata cara shalat, tetapi tentang kesabaran ayahnya. Mereka belajar bukan hanya tentang pentingnya doa, tetapi tentang kelembutan ibunya. Pendidikan karakter lahir dari keteladanan yang konsisten.
Karena itu, pertanyaan mendasarnya bukanlah seberapa lama kita menahan lapar, melainkan sejauh mana kita mampu menahan ego. Bukan sekadar berapa kali kita mengkhatamkan Al-Qur’an, tetapi bagaimana nilai Al-Qur’an membentuk cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan anggota keluarga. Apakah Ramadan hanya mengubah jadwal makan, atau sungguh-sungguh mengubah budaya rumah tangga kita?
Tantangan keluarga modern membuat refleksi ini semakin relevan. Dominasi gawai sering kali menggeser kehangatan dialog. Budaya konsumtif kadang menutupi makna spiritual berbuka. Ritme hidup yang cepat menjadikan kebersamaan terasa langka. Dalam situasi ini, Ramadan hadir sebagai momentum rekonstruksi—mengembalikan keluarga pada fungsi aslinya sebagai ruang pendidikan nilai.
Pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan teori yang kompleks. Ia membutuhkan konsistensi dan keteladanan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika mereka menyaksikan orang tua menjaga lisan saat lelah, berbagi saat berkecukupan, dan memaafkan saat tersakiti, mereka sedang menyerap pelajaran yang jauh lebih kuat daripada nasihat panjang.
Menjadikan Ramadan sebagai madrasah peradaban berarti mengembalikan pusat transformasi kepada keluarga. Dari rumah yang dipenuhi dzikir dan dialog penuh kasih, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi kokoh secara spiritual dan matang secara sosial. Dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari—shalat berjamaah, tadarus bersama, saling mendoakan—terbangun budaya yang membentuk arah masa depan.
Jika Ramadan berhasil membentuk budaya keluarga yang bertakwa, maka sesungguhnya kita sedang membangun peradaban—bukan dari luar, melainkan dari dalam. Peradaban yang kokoh tidak hanya ditopang oleh kecanggihan teknologi atau kemajuan ekonomi, tetapi oleh kualitas akhlak dan ketahanan spiritual keluarga-keluarganya.
Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kita. Dari meja sahur yang dipenuhi syukur, dari ruang tamu yang diterangi tilawah, dari hati keluarga yang belajar menundukkan ego. Di sanalah madrasah peradaban itu bermula.(Irfan Suba Raya)
















