Oleh: Munawir Kamaluddin
Ramadhan selalu hadir dengan wajah yang memikat. Jalan-jalan bersinar oleh lampu hias, masjid-masjid melimpah oleh jamaah, lantunan ayat dan doa memenuhi udara. Fenomena keagamaan tampak begitu hidup, begitu indah, begitu menggetarkan. Namun di balik segala yang terlihat itu, ada satu wilayah yang lebih sunyi dan lebih dalam, noumena adalh hakikat batin, esensi terdalam, makna yang tak kasat mata tetapi justru menentukan nilai segala sesuatu.
Fenomena adalah apa yang tertangkap oleh mata dan dirayakan oleh suasana. Noumena adalah apa yang ditangkap oleh hati dan disaksikan oleh kesadaran.
Fenomena bergerak di permukaan, noumena bekerja di kedalaman. Fenomena bisa menggerakkan massa, noumena menggerakkan jiwa. Di sinilah Ramadhan diuji: apakah ia berhenti sebagai gelombang sosial yang musiman, atau menjelma sebagai kesadaran transendental yang menetap dalam diri?
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada yang lahiriah semata:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.” (QS. ar-Rum: 7).
Ayat ini seakan berbicara kepada zaman kita. Zaman yang mencintai tampilan, menyukai angka, dan mudah terpesona oleh kemeriahan. Kita menyaksikan peningkatan sedekah, ramainya kajian, semangat berbagi. Semua itu baik dan patut disyukuri. Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah kesadaran kita ikut bertumbuh? Apakah hati kita ikut berubah?
Allah menegaskan prinsip yang membebaskan manusia dari jebakan simbolisme:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Hajj: 37)
Yang sampai kepada Allah bukan fenomena, melainkan noumena. Bukan riuhnya aktivitas, melainkan kedalaman ketakwaan. Rasulullah SAW. pun mengingatkan dengan sabda yang mengguncang kesadaran:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menyingkap satu realitas pahit: ibadah bisa saja berlangsung, tetapi makna tidak selalu hadir. Fenomena puasa terjadi, tetapi noumena puasa—yakni ketakwaan, tidak otomatis lahir.
Padahal tujuan puasa telah ditegaskan secara terang:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)
Takwa adalah noumena Ramadhan. Ia bukan sekadar suasana religius, tetapi kesadaran konstan bahwa hidup selalu berada dalam pengawasan Allah. Ia membuat seseorang jujur meski sendirian, lembut meski tak dipuji, dan istiqamah meski suasana telah berlalu.
Al-Hasan al-Bashri berkata:
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
“Iman bukan angan-angan dan hiasan kata, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibenarkan oleh amal.”
Noumena adalah sesuatu yang menetap itu, yang tak selalu terlihat, tetapi terasa kokoh. Ia tidak bergantung pada musim, tidak terikat oleh sorotan publik. Ia hidup dalam keheningan. Sering kali kita terdorong menampilkan kebaikan, padahal Allah memuliakan yang tersembunyi:
إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu maka itu baik, tetapi jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang fakir maka itu lebih baik bagimu.” (QS. al-Baqarah: 271)
Di sinilah batas tipis antara fenomena dan noumena. Fenomena ingin dilihat, noumena ingin diterima. Fenomena mencari tepuk tangan; noumena mencari ridha Allah.
Umar bin Khattab RA. menasihati:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Ramadhan adalah momen terbaik untuk muhasabah. Bukan sekadar menghitung jumlah amal, tetapi menimbang kualitas niat. Bukan hanya memastikan aktivitas bertambah, tetapi memastikan hati berubah. Allah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengguncang:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah ia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. al-‘Alaq: 14)
Kesadaran bahwa Allah melihat adalah inti noumena. Ibnul Qayyim menulis:
مَن عَرَفَ اللَّهَ اسْتَحْيَا مِنْهُ
“Barang siapa mengenal Allah, ia akan malu kepada-Nya.”
Ketika rasa malu kepada Allah tumbuh, ibadah tidak lagi digerakkan oleh suasana, tetapi oleh kesadaran. Amal tidak lagi bergantung pada musim, tetapi menjadi karakter.
Pada akkhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa megah fenomenanya, tetapi seberapa dalam noumenanya. Ia bukan sekadar cahaya yang menerangi malam, tetapi cahaya yang menembus relung jiwa.
Dan ketika gema takbir telah mereda, yang tersisa bukanlah seberapa ramai kita beribadah, melainkan seberapa jauh kita berubah. Apakah Ramadhan hanya menjadi fenomena yang indah di permukaan, atau telah menjelma noumena yang hidup dalam kesadaran kita setiap hari?
Wallahu a‘lam bish-shawab.🙏MK
SEMOGA BERMAFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin














