Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Modal Visi ‘Copas’, Prof. Budu Percaya Diri dalam Bursa Calon Rektor Unhas

51
×

Modal Visi ‘Copas’, Prof. Budu Percaya Diri dalam Bursa Calon Rektor Unhas

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR, Dengan hanya 6 hari tersisa jelang pemilihan rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), persaingan ketat diperkirakan akan terjadi antara dua kandidat utama: Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa (JJ), rektor petahana, dan Prof. Budu, Dekan Pascasarjana yang juga merupakan bagian dari jajaran kepemimpinan Prof. JJ saat ini.

Prof. Budu dipandang oleh pendukungnya sebagai penantang serius bagi Prof. JJ, mengingat pengalamannya dalam pemilihan sebelumnya pada tahun 2021, di mana ia mengalami kekalahan dramatis.

Example 500x700

Asratillah, Direktur Profetik Institute, menyoroti pemilihan rektor Unhas ini. Menurutnya, visi “Kampus Berdampak” yang diusung oleh Prof. Budu menarik, tetapi dari sudut pandang komunikasi politik, rumusan visi tersebut masih terlalu umum dan kurang spesifik terhadap kondisi riil Universitas Hasanuddin. Hal ini disampaikan saat dihubungi pada Selasa malam (28/10).

Asratillah menjelaskan bahwa visi “Kampus Berdampak” terkesan diadopsi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), sehingga lebih bersifat reproduktif daripada reflektif.

“Dari sisi komunikasi politik, visi ini mengulang narasi kebijakan pusat tanpa adanya dialektika kritis terhadap realitas lokal Unhas yang kaya akan kekhasan historis, sosial, dan geopolitik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asratillah menekankan bahwa kekuatan sebuah visi terletak pada kemampuannya untuk mengartikulasikan pesan yang khas dan relevan bagi audiens internal dan eksternal, bukan hanya pada keindahan diksi semata. Visi yang terlalu mirip dengan jargon institusi nasional cenderung kehilangan daya resonansinya di kalangan kampus dan gagal menjadi simbol kolektif yang mampu memicu imajinasi serta partisipasi sivitas akademika.

Meski demikian, Asratillah tetap mengapresiasi semangat para calon rektor, termasuk Prof. Budu, yang telah membuka ruang publik dengan menyampaikan visi mereka secara terbuka. Ia menilai hal ini sebagai bentuk literasi publik yang sehat dalam konteks demokratisasi pendidikan tinggi, di mana civitas akademika dapat lebih memahami pengelolaan universitas, visi yang ditawarkan, dan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para kandidat.

Asratillah menyimpulkan bahwa perdebatan tentang visi rektor bukan hanya tentang retorika, tetapi tentang kemampuan menanamkan makna dan arah strategis yang sesuai dengan identitas dan tantangan Unhas. Dari sinilah, publik akademik dan masyarakat luas dapat menilai sejauh mana visi tersebut mampu “menggerakkan” universitas, bukan sekadar menjadi kumpulan janji dan slogan.

Dengan demikian, visi “Kampus Berdampak” yang diusung Prof. Budu dinilai sebagai visi yang meniru (copy-paste).

Dalam perspektif jangka menengah 2025 – 2029, Unhas memiliki visi “Unhas Mandiri dan Modern berbasis Benua Maritim Indonesia”.

Dalam kertas kerjanya, Prof. Budu menekankan program “Kampus Berdampak” sebagai upaya pembentukan karakter mahasiswa dan intelektual yang membumi, kolaborasi sumber daya, pemanfaatan kebutuhan perguruan tinggi, serta transformasi tata kelola perguruan tinggi. Ia juga mengusung implementasi “Kampus Berdampak” melalui Festival Kampus Berdampak, sebagaimana dikutip dari visi dan misi rencana pengembangan Unhas 2030.

Prof. Budu mengakui bahwa rektor Unhas periode sebelumnya telah menyusun dokumen rencana pengembangan Universitas Hasanuddin (2030) yang monumental, yang seharusnya menjadi peta jalan bagi siapapun yang memimpin Unhas dari tahun 2015 hingga 2030. Dokumen RPJP Unhas – 2030 ini memuat visi, misi, dan rencana pengembangan Unhas hingga satu dekade mendatang, termasuk target-target strategis yang akan dicapai setiap 5 tahun.

“Dalam kertas kerja ini, Kami fokus memotret Visi dan Misi Unhas dan mengutip arahan arahan penting secara umum sebagaimana tertera dibawa ini”.

“Visi Unhas; Pusat unggulan dalam pengembangan insani, Ilmu pengetahuan, Teknologi, Seni dan Budaya berbasis Benua Maritim Indonesia”.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *