Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun
Ketika dunia menyaksikan kejatuhan para pemimpin di berbagai belahan dunia seperti Saddam Hussein di Irak, Muammar Gaddafi di Libya, atau Bashar al-Assad di Suriah, Rezim Iran justru bertahan selama lebih dari empat dekade. Lebih dari sekadar bertahan, ia mampu memproyeksikan kekuatan hingga ke Yaman, Lebanon, Suriah, dan Palestina.
Pertanyaannya, mengapa rezim Iran begitu ditakuti, baik oleh lawan-lawan regionalnya maupun oleh kekuatan global seperti Amerika Serikat dan Israel?
Dari perspektif antropologi, kekuasaan tidak hanya soal tank, rudal, atau jumlah personel militer. Kekuasaan juga soal simbol, ritual, dan narasi yang tertanam dalam kesadaran kolektif masyarakat. Rezim Iran pasca-revolusi 1979 berhasil membangun apa yang oleh antropolog Clifford Geertz disebut sebagai “sistem makna”, yakni sebuah jaringan simbol-simbol keagamaan yang meresap ke seluruh sendi kehidupan. Konsep Velayat-e Faqih (kepemimpinan para ahli hukum) bukan sekadar teori politik, melainkan doktrin yang disakralkan.
Pemimpin Tertinggi bukanlah presiden biasa; ia adalah “wali” yang memiliki otoritas spiritual setara dengan para imam dalam tradisi Syiah. Ketika Ali Khamenei berbicara, ia tidak hanya berbicara sebagai kepala negara, tetapi sebagai representasi Tuhan di bumi. Inilah sumber legitimasi yang tidak dimiliki oleh diktator sekuler manapun.
Namun, kekuatan rezim ini tidak hanya bersandar pada religiositas, tapi uga mengakar kuat dalam praktik keseharian masyarakat melalui jaringan yang dikenal sebagai basij, yaitu milisi sukarela yang tersebar hingga ke tingkat lingkungan dan keluarga. Di Iran, setiap lingkungan memiliki informan, setiap kampus memiliki mata-mata, dan setiap protes segera dihadang oleh para ‘relawan religius’ yang lahir dari rahim masyarakat sendiri. Inilah yang membuat rezim Khamenei begitu kuat dan tidak ditumbangkan dari dalam.
Dimensi lain yang membuat Iran ditakuti adalah kemampuannya mengekspor revolusi, bukan dalam arti militer semata, tetapi dalam arti kultural. Melalui jaringan Hizbullah di Lebanon, Hashd al-Shaabi di Irak, atau Houthi di Yaman, Iran tidak hanya mengirim senjata, tetapi juga mentransfer “habitus” perlawanan, yakni cara berpakaian, cara berdoa, cara memandang musuh, dan cara merayakan kematian sebagai syahid.
Artinya, ketika seorang pemuda Hizbullah mengenakan sorban hitam dan menyalakan roket, ia tidak sedang sekadar bertempur secara profan, akan tetapi juga dalam semangat sakral ia melakukan ritual yang menghubungkannya dengan Karbala dan sejarah panjang perlawanan Syiah. Inilah soft power yang tidak dimiliki oleh negara manapun di kawasan, dan inilah yang membuat proksi-proksi Iran begitu sulit dikalahkan meskipun dengan teknologi militer tercanggih sekalipun.
Di tingkat domestik, setiap kali Iran diancam, setiap kali tokohnya terbunuh, rezim menggelar ritual duka massal yang justru mengonsolidasi dukungan. Kematian Jenderal Qassem Soleimani pada 2020, misalnya, tidak melemahkan rezim, tetapi justru melahirkan gelombang patriotisme baru. Jutaan orang turun ke jalan bukan untuk memprotes, tetapi untuk meratapi “syahid” mereka. Dalam kerangka ini, ancaman eksternal bukanlah kelemahan, melainkan bahan bakar yang memperkuat legitimasi internal. Semakin keras tekanan asing, semakin kuat rakyat Iran merapat ke pemimpin mereka. Setidaknya, begitulah narasi yang dibangun dan dihayati oleh para loyalis Iran.
Satu hal pentingnya adalah kita tetap perlu mempertimbangkan resistensi internal Iran. Etnis Kurdi, Baloch, dan Arab di Iran selama ini merasa terpinggirkan oleh hegemoni Persia-Syiah. Di kalangan perempuan, gerakan “Woman, Life, Freedom” yang meletus pasca kematian Mahsa Amini pada 2022 menunjukkan bahwa setengah populasi Iran tidak lagi menerima takdir yang ditentukan oleh tafsir agama resmi.
Di kota-kota besar, generasi muda telah mengembangkan “budaya bawah tanah” seperti pesta-pesta tersembunyi, musik terlarang, hubungan tanpa ikatan pernikahan yang secara diam-diam menggerogoti fondasi moralitas rezim. Inilah ironi terbesar, yakni rezim yang begitu ditakuti di luar negeri, sesungguhnya sedang ‘membusuk dari dalam’ oleh kontradiksi-kontradiksi internal yang tentu saja tidak terlepas dari budaya impor dari luar.
Kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 menjadi ujian terbesar bagi kelangsungan sistem makna yang telah dibangun selama 47 tahun. Pada akhirnya, ketakutan dunia terhadap Iran adalah cerminan dari keberhasilannya membangun mesin kekuasaan yang menggabungkan elemen-elemen modern dan tradisional, militer dan spiritual, lokal dan transnasional.
Namun kita harus ingat bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi, tak ada ‘big man’ selamanya, dan selalu ada saja masa-masa kuat dan masa-masa lemah. Saat ini, kematian Khamenei bisa disebut sebagai ‘masa lemah’, akan tetapi jika diorganisir lebih baik, hal itu dapat membangkitkan kembali ‘masa kuat’ untuk melawan kekuatan dari luar.
Tapi, penghormatan terhadap kedaulatan negara lain harusnya menjadi pedoman dalam interaksi antarnegara; dan inilah yang harusnya dipegang pula oleh Amerika Serikat. Dan, jika Israel ingin hidup koeksistensi dengan negara tetangganya, seharusnya ia membuka opsi ‘solusi dua negara’ dengan kedaulatan Palestina yang hakiki.
















