Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Korea Selatan dan Kerapuhan Janji Sekutu

7
×

Korea Selatan dan Kerapuhan Janji Sekutu

Sebarkan artikel ini

Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate

Perang Iran telah membuka mata Korea Selatan pada kenyataan pahit: sekutu terkuatnya tidak selalu bisa diandalkan. Seperti ditulis Karishma Vaswani (Bloomberg, 17 Maret 2026), “Korea Selatan sedang belajar kebenaran pahit tentang janji-janji AS.” Penarikan aset pertahanan udara AS—termasuk sistem THAAD—dari Semenanjung Korea ke Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius di Seoul.

Example 500x700

Aurelia Schlosser dalam freiheit.org (13/3/2026) mencatat bahwa Korea adalah importir minyak terbesar keempat dunia, dengan 70 persen minyak mentah dan 20 persen gas cair berasal dari Timur Tengah. Blokade Selat Hormuz menaikkan harga minyak, dan jika harga mencapai 100 dolar per barel, pertumbuhan ekonomi Korea bisa turun 0,3 persen.

Pemerintah terpaksa memberlakukan pengendalian harga BBM untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade. Krisis energi ini menunjukkan betapa rapuhnya negara industri maju yang bergantung pada satu kawasan rawan konflik.

Kita lihat saat ini adanya keraguan terhadap payung keamanan AS yang semakin dalam. Vaswani mengungkapkan bahwa Pyongyang telah memanfaatkan situasi dengan meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik. Namun yang lebih mengkhawatirkan, Washington memindahkan sistem pertahanan yang seharusnya melindungi Korea dari ancaman Korea Utara.

Park Won-gon dalam tulisannya di Korea JoongAng Daily (17/3/2026) memperingatkan bahwa AS kini menghadapi “imperial overstretch”, yakni ‘terjebak di tiga kawasan sekaligus’: Eropa, Timur Tengah, dan Indo-Pasifik.

Dalam hal ini, AS terlihat sebagai kekuatan besar yang komitmen globalnya melebihi kemampuan sumber daya yang dimilikinya, yang pada akhirnya akan melemahkan pengaruh dan stabilitasnya sendiri. Akibatnya, AS meminta sekutu seperti Korea mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, sebuah permintaan yang menempatkan Seoul dalam posisi sulit.

Satu hal penting adalah dampak jangka panjang bisa memicu perlombaan senjata regional. Vaswani mencatat bahwa publik Korea mulai mempertanyakan apakah pengorbanan mereka selama ini—termasuk membayar mahal secara ekonomi akibat pemasangan THAAD yang memicu kemarahan China—tidak sia-sia.

Tekanan untuk mengembangkan senjata nuklir independen kemungkinan akan tumbuh. Jika itu terjadi, rezim non-proliferasi yang dibangun AS selama puluhan tahun akan terancam, dan Asia Timur bisa memasuki era perlombaan senjata baru.

Perang Iran sekarang ini bukan sekadar konflik Timur Tengah biasa. Ini adalah momen ketika tatanan internasional pasca-Perang Dunia II menunjukkan keretakan yang dalam.

Bagi Korea Selatan, pelajarannya jelas, yaitu ketergantungan pada satu kekuatan besar adalah perjudian berisiko tinggi. Artinya, sudah saatnya Seoul memperkuat ketahanan nasional—baik energi maupun pertahanan—dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin tidak menentu.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *