Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Ketika Kurikulum Pendidikan Tak Lagi Berjumpa dengan Realitas Hidup

44
×

Ketika Kurikulum Pendidikan Tak Lagi Berjumpa dengan Realitas Hidup

Sebarkan artikel ini
Screenshot

Oleh: Dr. Rendra Anggoro
Akademisi

Pendidikan Indonesia hari ini menghadapi masalah mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur: kurikulum kita belum relevan dengan kehidupan nyata. Sekolah dan perguruan tinggi terus mencetak lulusan, tetapi gagal membekali mereka dengan kemampuan menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya. Akibatnya, pendidikan seolah berjalan di jalurnya sendiri, terpisah dari dinamika sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat setiap hari.

Example 500x700

Kurikulum pendidikan masih terlalu sibuk dengan target materi, capaian angka, dan kelulusan administratif. Peserta didik diajarkan menghafal konsep dan rumus, tetapi tidak cukup dilatih untuk memahami masalah nyata di sekeliling mereka. Ilmu ekonomi diajarkan tanpa menyentuh realitas UMKM dan ekonomi keluarga. Ilmu sosial hadir tanpa keberpihakan pada ketimpangan dan konflik sosial. Ilmu sains berkembang tanpa kepekaan terhadap krisis lingkungan. Bahkan pendidikan agama kerap berhenti pada hafalan, bukan pembentukan karakter dan empati sosial.

Dampaknya terlihat jelas di ruang publik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pengangguran terdidik lulusan SMA hingga perguruan tinggi masih menjadi bagian signifikan dari pengangguran terbuka. Ini bukan semata persoalan lapangan kerja, tetapi sinyal kuat bahwa pendidikan gagal membentuk manusia yang adaptif, solutif, dan mandiri. Lulusan kita tahu banyak hal secara teoritis, namun sering kali gagap ketika berhadapan dengan persoalan hidup yang kompleks.

Dalam kondisi seperti ini, ijazah dan gelar akademik kehilangan makna sosialnya. Ia hanya menjadi bukti bahwa seseorang pernah sekolah, bukan penanda bahwa ia memiliki kemahiran menghadapi rintangan hidup. Padahal, hakikat pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, beradaptasi dengan perubahan, dan memiliki kepekaan terhadap sesama. Jika pendidikan tidak menghasilkan itu, maka yang lahir hanyalah generasi berijazah tinggi tetapi minim daya guna.

Kurikulum seharusnya dirancang sebagai alat pemecahan masalah kehidupan, bukan sekadar silabus pembelajaran. Setiap disiplin ilmu harus menjadi solusi yang saling menguatkan. Ilmu teknik hadir untuk menjawab problem infrastruktur dan teknologi masyarakat. Ilmu ekonomi berperan menciptakan kesejahteraan dan keadilan. Ilmu hukum melindungi dan memberi kepastian. Ilmu pendidikan membentuk karakter dan daya pikir. Ilmu sosial dan humaniora menumbuhkan empati dan kepekaan sosial. Semua bidang keilmuan harus bertemu pada satu tujuan: menjawab kebutuhan hidup manusia secara nyata.

Selama ini, perubahan kurikulum kerap berhenti pada pergantian istilah dan format administratif. Yang dibutuhkan bukan sekadar kurikulum baru, tetapi perubahan paradigma. Pendidikan harus bergeser dari sekadar penguasaan materi menuju penguasaan kehidupan. Pembelajaran harus berbasis masalah nyata, kontekstual dengan lingkungan peserta didik, dan mendorong kolaborasi lintas disiplin.

Jika kurikulum terus dibiarkan terputus dari realitas, maka pendidikan hanya akan menjadi pabrik ijazah. Namun jika kurikulum didesain membumi, maka sekolah dan kampus akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, peka, dan mampu memberi solusi bagi masyarakat. Di situlah pendidikan menemukan kembali maknanya: bukan sekadar meluluskan, tetapi memanusiakan dan memampukan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *