Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate
Perang melawan Iran telah memasuki babak baru. Benjamin Netanyahu, dalam konferensi pers pertamanya sejak konflik dimulai, menyatakan bahwa “ini bukan lagi Iran yang sama, bukan lagi Timur Tengah yang sama, dan bukan lagi Israel yang sama” (Williamson, BBC, 14/3/2026). Namun di balik retorika kemenangan itu, rezim Iran masih berdiri, dan Netanyahu kini menghadapi ujian politik terbesarnya.
Profesor Yossi Mekelberg dari Chatham House mencatat bahwa sejak peristiwa 7 Oktober 2023, Israel memang telah memulihkan kredibilitas militernya, apalagi terus dapat supporting dari AS, akan tetapi mereka “kehilangan moral dan posisi politik” (Chatham House, 3/3/2026). Serangan yang berlebihan, terutama pada korban nyawa sipil telah mengganggu hubungan dengan sekutu Eropa dan bahkan negara-negara Arab yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel.
Tiga hal dapat kita analisis dalam hal itu.
Pertama, ambisi regime change (perubahan rezim) Iran telah gagal total.
Netanyahu menghabiskan puluhan tahun membangun karier politiknya di atas fondasi permusuhan terhadap Iran. Ia menggambarkan perang ini sebagai “kampanye penentu bagi eksistensi kami” dan “Perang Penebusan” (Williamson, 2026). Namun setelah membunuh pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit, Netanyahu kini diam-diam mengakui bahwa perang mungkin berakhir dengan rezim yang masih utuh.
Mayjen Yaakov Amidror, mantan penasihat keamanan nasional Israel, mengakui: “Kami tahu keterbatasan kami, kami bukan negara adidaya” (Williamson, 2026) seperti AS yang memiliki sumber daya berlimpah. Mekelberg memperingatkan bahwa “pernyataan triumfalistik” (pernyataan yang bersifat penuh kemenangan, kejayaan, atau keberhasilan besar) yang mendorong warga Iran untuk menggulingkan rezim justru membuat negara-negara Teluk “sangat khawatir” karena dapat memicu kekacauan regional.
Kedua, kerusakan infrastruktur militer Iran tidak menjamin keamanan jangka panjang.
Juru bicara IDF, Lt Col Nadav Shoshani, mengklaim kerusakan kali ini “lebih dalam” dan bersifat “permanen atau semi-permanen” (Williamson, 2026). Namun fakta berbicara lain: delapan bulan setelah perang Juni 2025 yang dinyatakan sebagai “kemenangan bersejarah”, Israel kembali berperang melawan Iran.
Simon Speakman Cordall dari Al Jazeera melaporkan bahwa warga Israel mulai bertanya, misalnya ada yang bertanya bahwa “Pada Juni lalu mereka [otoritas Israel] katanya telah menghancurkan rudal Iran, tapi saat ini Israel tetap berfokus untuk menghancurkan rudal” (Al Jazeera, 13/3/2026). Siklus ini mengkonfirmasi bahwa serangan militer tanpa perubahan rezim hanya menunda, bagi Israel tidaklah akan mengakhiri ‘rasa terancam’ mereka dari Iran.
Ketiga, Netanyahu terjebak dalam janji-janji masa lalu yang menghantuinya.
Analis Neri Zilber memperingatkan bahwa “janji-janji masa lalu akan kembali menghantuinya” karena Hamas masih menguasai setengah Gaza, Hizbullah justru semakin kuat, dan perang saat ini adalah “perang yang lebih besar” daripada sebelumnya (Williamson, 2026). Mekelberg menambahkan bahwa “ketidakmampuan Israel menerjemahkan keberhasilan militer menjadi pencapaian diplomatik” telah menyebabkan semua front yang dibuka sejak 7 Oktober 2023 tetap tidak terselesaikan (Mekelberg, 2026).
Satu hal yang menunjukkan bahwa ‘perang dengan Iran ini akan terus berjalan’ adalah dukungan publik Israel terhadap perang ini yang tetap tinggi. Cordall (2026) melaporkan bahwa 93 persen responden Yahudi mendukung serangan terhadap Iran. Namun Alon-Lee Green dari Standing Together mencatat bahwa upaya protes damai justru dibubarkan polisi, menciptakan ilusi dukungan total yang sebenarnya tidak sepenuhnya nyata.
Dari konteks di atas kita bisa ambil simpulan bahwa saat ini Netanyahu berdiri di persimpangan. Dia sedang berada antara mengakui realitas pahit bahwa ‘militer tidak bisa menyelesaikan masalah politik’, atau ‘terus menjual ilusi kemenangan yang semakin hari semakin runtuh oleh fakta di lapangan.’
Terkait dengan itu, menarik pandangan Mekelberg (2026) yang menyimpulkan bahwa Netanyahu sebenarnya sedang “bertaruh bahwa perang ini akan meningkatkan peluangnya bertahan secara politik,” tetapi risiko jangka panjang bagi keamanan Israel dan hubungannya dengan AS tetaplah sangat tinggi—jika mereka tidak berdamai dengan Iran. Sebagai politisi, Netanyahu kemungkinan akan terus bersiasat agar tetap bertahan dalam kursi kepemimpinan Israel.
















