Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Kekuasaan Ofensif Melahirkan Delegitimasi

12
×

Kekuasaan Ofensif Melahirkan Delegitimasi

Sebarkan artikel ini

oleh : Muhammad Ilham

Dalam dinamika kekuasaan, sejarah berulang kali menunjukkan bahwa kekuatan tidak semata-mata bertumpu pada otoritas formal, melainkan pada kualitas relasi antara penguasa dan rakyat. Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, menegaskan bahwa tindakan ofensif dan keras dari seorang penguasa justru menjadi ancaman bagi keberlangsungan kekuasaannya sendiri. Kekuasaan yang dijalankan dengan pendekatan represif adalah pertanda melemahnya kapasitas kepemimpinan.

Example 500x700

Hakikat pemerintahan sejatinya bukan sekadar struktur kekuasaan, melainkan representasi kehendak dan kebutuhan rakyat. Penguasa hadir sebagai pelengkap dalam sistem sosial, sebuah korelasi yang bersifat timbal balik. Rakyat membutuhkan pemimpin untuk mengatur, melindungi, dan memenuhi kebutuhan kolektif, sebaliknya, penguasa memperoleh legitimasi dan kekuatannya dari rakyat. Di sinilah letak relativitas antara dua unsur yang tidak dapat dipisahkan.

Beberapa hari terakhir, publik dikejutkan dengan kabar bahwa Ketua BEM Universitas Gadjah Mada menerima teror setelah melayangkan kritik kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kasus meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Ngada, NTT. Terlepas dari perbedaan pandangan terhadap substansi kritik tersebut, peristiwa ini menjadi alarm penting bagi kualitas demokrasi kita.

Mahasiswa dalam sejarah Indonesia selalu menempati posisi sebagai moral force (kekuatan moral), penyampai kegelisahan publik ketika ada kebijakan atau peristiwa yang dianggap tidak adil. Kritik adalah bagian inheren dari sistem demokrasi. Ia bukan ancaman terhadap negara, melainkan mekanisme koreksi terhadap kekuasaan. Namun ketika kritik justru dibalas dengan intimidasi, tekanan, atau teror, maka yang dipertaruhkan bukan hanya individu pengkritik, tetapi legitimasi kekuasaan itu sendiri.

Ketika relasi antara penguasa dan rakyat dikelola dengan keadilan dan keterbukaan, kemaslahatan akan tercipta. Namun jika yang muncul adalah sikap defensif berlebihan dan ruang kritik yang menyempit, maka yang tumbuh bukan loyalitas, melainkan ketakutan. Rakyat yang hidup dalam bayang-bayang tekanan cenderung membangun relasi semu, penuh kepura-puraan dan kepatuhan formal tanpa kepercayaan batin.

Karena itu, tindakan ofensif baik dalam bentuk retorika keras maupun pembiaran terhadap intimidasi pada akhirnya membahayakan kekuasaan itu sendiri. Kepemimpinan yang kuat bukanlah yang anti kritik, melainkan yang mampu menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati. Di situlah letak kematangan seorang pemimpin dan keberlanjutan sebuah pemerintahan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *