Jakarta — Di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia, perhatian terhadap kebiasaan hidup sehari-hari masih kerap terabaikan. Dokter Koboi, dr. Wachyudi Muchsin, menegaskan bahwa kesehatan masyarakat tidak selalu ditentukan oleh intervensi medis yang rumit, melainkan oleh kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti pola nongkrong di warkop, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.
Menurut Dokter Koboi panggilan akrabnya, warkop sebagai ruang sosial masyarakat Indonesia sejatinya bukan masalah. Bahkan, dalam batas yang wajar, aktivitas sosial seperti berkumpul dan berbincang santai di warkop justru memiliki manfaat psikologis.
“Interaksi sosial yang hangat, tertawa, dan berbagi cerita dapat merangsang pelepasan hormon kebahagiaan seperti endorfin, dopamin, dan oksitosin, yang berperan penting dalam menurunkan stres dan menjaga kesehatan mental,” ujar Dokter Koboi, jumat 9 Januari 2026
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa manfaat tersebut akan berkurang bahkan berubah menjadi risiko kesehatan bila nongkrong di warkop dilakukan berjam-jam tanpa diimbangi aktivitas fisik, disertai konsumsi minuman manis berlebihan, serta berujung pada kebiasaan begadang.
“Ke warkop itu bagian dari budaya sosial kita. Yang menjadi persoalan adalah ketika duduk terlalu lama menggantikan waktu bergerak dan waktu tidur. Di situlah gangguan kesehatan mulai muncul secara perlahan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan duduk lama tanpa aktivitas fisik berkontribusi pada peningkatan risiko obesitas, gangguan metabolik, nyeri otot, hingga penyakit jantung. Sementara itu, konsumsi kopi manis, minuman berpemanis, dan camilan tinggi kalori yang sering menyertai aktivitas nongkrong juga memperbesar risiko diabetes dan tekanan darah tinggi bila dikonsumsi berlebihan.
Dokter Koboi menekankan bahwa tubuh manusia secara biologis dirancang untuk bergerak. Aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki 30 menit per hari, terbukti membantu menjaga kesehatan jantung, metabolisme, serta keseimbangan emosi.
“Olahraga tidak harus berat. Bergerak secara rutin jauh lebih penting daripada menunggu waktu luang yang sempurna,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti kebiasaan begadang yang kerap dianggap wajar, bahkan dibanggakan, terutama di kalangan usia produktif. Padahal, tidur merupakan fase biologis penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan sel, menyeimbangkan hormon, memperkuat sistem imun, serta menjaga fungsi kognitif.
“Kurang tidur bukan tanda produktif. Ia justru membuat manfaat aktivitas sosial dan olahraga menjadi tidak optimal,” tegasnya.
Berdasarkan data kesehatan nasional, tren penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes terus meningkat. Menurut Dokter Koboi, kondisi ini tidak terlepas dari gaya hidup sedentari, pola makan tidak seimbang, dan kualitas tidur yang buruk bukan semata karena kurangnya fasilitas kesehatan.
Dokter Koboi mengajak masyarakat untuk menjaga keseimbangan dalam keseharian. Nongkrong di warkop tetap boleh sebagai sarana relaksasi dan kesehatan mental, selama disertai kesadaran untuk bergerak cukup dan tidur berkualitas.
“Sehat bukan soal siapa yang paling kuat menahan sakit, tetapi siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan hidupnya. Nongkrong boleh, tertawa perlu, tapi tubuh juga harus diberi waktu bergerak dan beristirahat,” pungkasnya.
















