Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Dekan FKM Unhas Menghadiri Pertemuan Wali Kota Asia Pasifik tentang Penguatan Tatanan Kota Sehat di Malaysia

44
×

Dekan FKM Unhas Menghadiri Pertemuan Wali Kota Asia Pasifik tentang Penguatan Tatanan Kota Sehat di Malaysia

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR,- Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof.Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, PhD mendapat kehormatan diundang oleh WHO Representative Malaysia, Brunei, dan Singapura dari Western Pacific Region Organization (WPRO) untuk menghadiri pertemuan wali kota tentang penguatan tatanan kota sehat di bawah Aliansi Forum Kota Sehat (AFCC) regional. Acara yang berlangsung selama dua hari penuh, 25-26 November 2025, di Royale Chulan Penang, George Town, Penang, Malaysia, menyajikan pemaparan komprehensif mengenai kebijakan pemerintah, tantangan masalah kesehatan di Malaysia, serta pengalaman berbagai negara dalam mengembangkan kota sehat.

Dalam plenary talk 1, Dr. Rabindra, WHO Representative untuk Malaysia, Brunei, dan Singapura, menjelaskan tentang populasi yang lebih sehat melalui pendekatan dari sistem sakit (“sick system”) ke sistem kesehatan (“health system”). Beliau menekankan bahwa pendekatan kesehatan selama ini lebih banyak berfokus pada pendekatan sakit yang reaktif dan melayani orang sakit, sehingga gagal meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan. Padahal, ada sistem kesehatan yang lebih komprehensif untuk melihat masalah kesehatan secara holistik. Determinan kesehatan memberikan ruang untuk mengkaji masalah kesehatan dan menyelesaikan akar masalahnya. Plenary talk 2 dilanjutkan dengan materi tentang “Menenun Kesehatan dalam Kehidupan Sehari-hari; Panduan Berbasis Pengaturan untuk Populasi yang Lebih Sehat,” yang disajikan oleh Dr. Devender Singh, Koordinator Pelaksana, Unit Masyarakat Pemberdayaan Kesehatan, WPRO. Materi ini melengkapi plenary talk 1, memberikan pemahaman yang lebih mendalam.

Example 500x700

Acara ini semakin menarik dengan menampilkan para pembicara yang berbagi praktik baik, pelajaran yang dapat diambil, dan konsideran kunci untuk memastikan kota sehat terus bergerak maju. Penang, Malaysia; Sarawak, Malaysia; Filipina; dan Indonesia menjadi contoh dengan pengalaman, capaian, dan tantangan yang berbeda. Malaysia berhasil mengendalikan Kawasan Tanpa Rokok, memiliki program ramah lansia, serta layanan dan jaminan kesehatan yang berkualitas. Filipina unggul dengan pasar sehat, sementara Indonesia dikenal dengan penghargaan Swasti Saba yang diberikan kepada kabupaten/kota yang berhasil mengembangkan kabupaten/kota sehat. Tantangan yang dihadapi beragam, tetapi relatif mirip antara satu negara dengan negara lain, seperti kerjasama lintas sektor, penguatan dukungan dari sektor di luar kesehatan, pendanaan, dan partisipasi masyarakat.

Sesi round table kedua mendiskusikan pengalaman dari berbagai negara, termasuk fokus WHO pada masalah lansia yang kompleks, serta bagaimana berjejaring dengan aliansi kota sehat dan jejaring Asia Pasifik kawasan tanpa rokok. Keanggotaan aliansi kota sehat bersifat penuh (kota) dan tidak penuh (universitas, LSM, pusat studi, atau individu yang memiliki perhatian pada kota sehat). Keanggotaan aliansi kota sehat dan jejaring kawasan tanpa rokok memiliki persyaratan yang diatur tersendiri.

Pada hari kedua, diskusi difokuskan pada promosi kota dan komunitas ramah lansia, serta pencegahan penyakit tidak menular dan cedera/kecelakaan melalui penerapan kota sehat.

Prof. Sukri Palutturi, PhD, alumni Griffith University Australia dan Guru Besar FKM Unhas dengan kepakaran di bidang healthy cities, memberikan pandangan berdasarkan kajian literatur dan pengalaman praktik di berbagai region WHO. Beliau melihat masalah utama terletak pada pemahaman yang belum komprehensif mengenai kota sehat, sehingga pengembangan kapasitas menjadi sangat penting dan berkelanjutan. Selain itu, masalah kelembagaan dan pendanaan juga menjadi perhatian. Kelembagaan kota sehat beragam, dan sumber pendanaan relatif terbatas. Namun, hal paling krusial adalah pergantian pimpinan daerah (bupati dan wali kota) yang diikuti dengan pergantian pimpinan OPD. Akibatnya, penjelasan mengenai kota sehat, baik dalam konteks nasional maupun internasional, serta urgensinya, harus dimulai dari nol lagi.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *