Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Cinta Bukan Alasan Kekerasan: Kampus Harus Diselamatkan dari Krisis Akhlak

2
×

Cinta Bukan Alasan Kekerasan: Kampus Harus Diselamatkan dari Krisis Akhlak

Sebarkan artikel ini

Opini oleh: Sahrul Ariansyah

Peristiwa pembacokan terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau bukan sekadar tindak kriminal. Ini adalah potret krisis pengendalian diri dan kegagalan pembinaan karakter di ruang yang seharusnya menjadi pusat peradaban.

Example 500x700

Narasi “cinta ditolak lalu sakit hati” tidak boleh kita terima sebagai penjelasan yang cukup. Islam tidak pernah membenarkan perasaan sebagai legitimasi untuk melukai. Justru dalam Islam, kemuliaan seseorang diukur dari kemampuannya menahan diri.

Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Ayat ini tegas. Kemarahan bukan untuk dilampiaskan, tetapi untuk dikendalikan. Ketika penolakan dibalas dengan senjata, itu bukan cinta tapi itu ego yang tidak terkendali.

Sebagai kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), saya memandang bahwa tragedi ini adalah alarm keras bagi dunia kampus Islam. Kampus bukan hanya tempat mengejar IPK dan gelar sarjana. Ia adalah ruang pembentukan akhlak. Jika kekerasan lahir dari mahasiswa di lingkungan akademik, maka ada yang perlu kita evaluasi secara serius.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini meruntuhkan logika maskulinitas keliru yang menganggap agresi sebagai simbol kekuatan. Justru ketidakmampuan menerima penolakan adalah tanda kelemahan jiwa.

Lebih tajam lagi, kita harus berani mengatakan:
Relasi tanpa batas, pergaulan tanpa adab, dan budaya permisif tanpa kontrol diri adalah lahan subur lahirnya tragedi seperti ini. Ketika perasaan tidak dituntun nilai, ia berubah menjadi obsesi. Ketika obsesi ditolak, ia bisa berubah menjadi kekerasan.

Namun kita juga tidak boleh berhenti pada kritik personal. Institusi kampus harus memastikan:

  • Sistem keamanan benar-benar ketat.
  • Layanan konseling aktif dan preventif.
  • Edukasi relasi sehat dan pembinaan ruhiyah berjalan nyata, bukan formalitas.

Gerakan mahasiswa harus hadir, bukan hanya mengecam, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah bentuk kezaliman yang tidak memiliki tempat dalam Islam maupun dalam peradaban akademik.

Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Penolakan bukan penghinaan. Perasaan bukan hak kepemilikan. Dan cinta tidak pernah membenarkan darah.

Tragedi ini harus menjadi titik balik. Jika kampus Islam saja tidak aman, maka kita sedang menghadapi krisis yang lebih dalam daripada sekadar kasus kriminal. Kita sedang menghadapi krisis akhlak.

Dan krisis akhlak hanya bisa dijawab dengan penguatan iman, pembinaan karakter, dan keberanian menegakkan nilai.

Karena masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang dikuasai amarah, tetapi oleh mereka yang mampu mengendalikannya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *