Oleh: Jumadi Al Bimawi
Makassar – Marhaban ya Ramadhan, ucapan ini adalah sebagai bentuk kegembiraan atas tamu spesial tahun ini untuk umat Islam, karena pada dasarnya tidak semua orang yang merindukan bulan suci akhirnya dipertemukan kembali dengannya.
Setiap kali bulan suci datang, sesungguhnya ia bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan penegasan bahwa Allah masih memberi kesempatan hidup, kesempatan beribadah, dan kesempatan memperbaiki diri.
Di antara sekian banyak nikmat yang sering luput dari kesadaran yaitu kesempatan menikmati bulan suci dengan memperbanyak ibadah.
Salah satu ibadah yang di perintahkan untuk dilaksanakan pada bulan suci ini adalah puasa, ibadah tersebut mengajarkan manusia tentang makna syukur secara lebih mendalam.
Selama sebelas bulan, mereka menikmati makan dan minum tanpa banyak berpikir. Namun ketika ramadan datang dengan ibadah puasa yaitu menahan diri sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, kita baru benar-benar menyadari betapa berharganya nikmat yang selama ini terasa biasa. Lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, tetapi cara Allah mendidik hati agar lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih menghargai karunia-Nya.
Lebih dari itu, bulan Ramadan adalah tanda bahwa umur kita masih diperpanjang. Betapa banyak sahabat, keluarga, atau tetangga yang tahun lalu masih bersama, tetapi kini telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Maka ketika kita masih bisa menyambut azan Subuh pertama di bulan Ramadan, masih mampu berdiri dalam shalat tarwih, dan masih dapat membaca ayat-ayat suci dengan tenang, itu bukan rutinitas biasa tetapi anugerah yang tidak semua orang miliki.
Rasa syukur atas nikmat Allah tidak cukup diwujudkan dengan ucapan “alhamdulillah” semata. Syukur menuntut kesungguhan, tetapi Ia tercermin dalam kualitas puasa yang bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perilaku. Ia terlihat dalam kesediaan berbagi kepada sesama, dalam kesabaran menghadapi perbedaan, dan dalam ketekunan menghidupkan malam dengan doa. Ramadan menjadi cermin sejauh mana kita memanfaatkan kesempatan yang diberikan.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan sering kali melelahkan, Ramadan menghadirkan jeda yang menenangkan. Ia seperti oase spiritual yang menyegarkan kembali jiwa yang kering oleh rutinitas duniawi. Dalam suasana sahur yang hening, dalam lantunan tilawah yang perlahan, dan dalam sujud yang panjang di malam hari, kita diingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi tentang kedekatan dengan Sang Pencipta.
Oleh karena itu, bersyukur dipertemukan dengan Ramadan tahun ini berarti menjadikannya momentum transformasi diri untuk meninggalkan bekas dalam diri kita yaitu menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih disiplin dalam ibadah, maka itulah tanda bahwa syukur tumbuh dengan benar. Namun jika ia berlalu tanpa perubahan berarti, maka mungkin kita baru menikmati suasananya, belum menyerap maknanya.(Irfan)














