Oleh: Tamsil Linrung
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 169: “Janganlah engkau mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu wafat. Mereka hidup di sisi Rabb mereka dan mendapat rezeki.”
Ayat ini berbicara tentang keberanian yang melampaui rasa takut. Tentang manusia yang tidak bergeming di bawah bayang-bayang ancaman. Tentang etape perjalanan pascadunia yang fana bagi jiwa yang mewakafkan hidupnya untuk menjaga martabat bangsa.
Selama puluhan tahun, kita menyaksikan tidak sejengkal pun langkah Ayatollah Ali Khamenei bergeser mundur dari garis perjuangan. Tekanan, ancaman, embargo, intimidasi hingga berkali-kali upaya assasisnasi tidak menyurutkan ghirohnya mempertahankan kemuliaan sebagai bangsa merdeka.
Dalam lintasan sejarah modern dunia Islam, Ayatollah adalah satu dari sedikit sosok figur yang memilih berdiri tegak melawan badai. Ayatollah Ali Khameini mengukir namanya dalam prasasti sejarah. Peristiwa yang selamanya akan dikenang ini, menjadi salah satu hikmah terbesar bulan Ramadan.
Ia mengajarkan satu hal mendasar, bahwa martabat tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keteguhan menahan diri dan berdiri pada prinsip.
Ayat tentang para syuhada bukan sekadar narasi tentang kematian. Ia adalah deklarasi bahwa hidup yang dipersembahkan untuk menjaga kehormatan dan prinsip tidak pernah sia-sia. Dalam konteks bangsa, martabat adalah garis yang tidak boleh ditawar.
Kita boleh berbeda pandangan politik. Kita boleh berbeda strategi. Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah kesadaran bahwa kedaulatan bukan komoditas.
Ramadan tahun ini mengingatkan kita, umat yang ditempa oleh puasa seharusnya tidak mudah gentar oleh tekanan. Sebab setiap hari kita belajar menaklukkan rasa takut paling dasar dalam diri sendiri, takut terhadap kebutuhan biologis yang dibatasi.
Bangsa yang kuat selalu lahir dari individu-individu yang lebih takut kehilangan kehormatan daripada kehilangan kenyamanan.
Semoga Ramadan melahirkan generasi yang teguh, jernih, dan bermartabat. Generasi yang kokoh pada prinsip.
Wallahu a’lam bishawab.
















