MAKASSAR,- Rostia, 49 Tahun, seorang petugas kebersihan di kecamatan Manggala, Kota Makassar, dengan suara terbata bata; ia menyampaikan terimakasih kepada Presiden Prabowo Subiyanto dan Badan Gizi Nasional.
“Alhamdulillah pak, anakku sudah terima MBG di sekolahnya. Syukur sekali, biasanya sebelum ada makan gratis, saya harus siapkkan jajan sepuluh ribu, sementara anak saya ada empat orang,”katanya, saat mengikuti dialog reses dengan Wakil Ketua DPRD Sulsel, Rahman pina, Minggu 22 Februari di kelurahan Biring Romang Kec Manggala, Makassar.
Menurut dia, dengan makan gratis yang digagas Presiden Prabowo itu, jutaan anak Indonesia seperti dirinya, sangat terbantu. “Saya petugas kebersihan pak, gaji sudah kecil, anak banyak. Jangankan bangun rumah, untuk jajan anak sekolah saja susah,”katanya sambil terisak. “Terimakasih pak Prabowo.”
Ia pun mengaku tidak habis pikir, dengan banyaknya orang yang masih sebar sebat video menolak MBG. “Mungkin karena mereka punya uang, bisa beli makan apa saja, sehingga makan gratis dianggap tidak perlu,”katanya lagi.
Bukan hanya Rostia, Enny, seorang ibu rumah tangga yang hadir dalam acara reses tersebut, juga menyampaikan rasa syukurnya atas adanya program makan gizi gratis. “Sejak
Ada makan gratis, saya juga kerja ma’. Adami gajiku. Duku susahnya kerjaan,”katanya. Ia mengaku kerja di salah satu sppg di kec Manggala, kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Dalam reses DPRD Sulawesi Selatan di kelurahan Biringroman, Manggala, Rahman Pina yang terpilih lewat Dapil Makassar 2 memang secara khusus melakukan sosilisasi terhadap program makan bergizi gratis.
Menurut dia, meski ramai di media sosial, program MBG yang digagas Presiden Prabowo ini luar biasa. Selain menghadirkan manfaat ganda: memenuhi gizi anak-anak, ekosistem ekonomi, lewat badan gizi, sangat terasa betul bagaimana kehadiran pemerintah.
“Coba bayangkan anak anak yang ada di pelosok. Seperti kampung saya di Enrekang, mereka baru bisa makan daging, telur kalau ada pesta. Datang MBG, tiap hari sudah makan daging. Bahkan jenis buah buahan yang dulu hanya kita baca di buku. Anggur, lengkeng, pir. Sekarang mereka bisa nikmati,”katanya menceritakan kondisi di kampungnya, dulu dan sekarang.
Ia pun berharap, masyarakat tidak ikut ikutan membangun framing yang keliru terkait MBG. “Jika masih ada yang tidak sesuai espektasi. Itu manusia. Programnya baru berjalan setahun dan langsung melayani puluhan juta orang, tentu tidak mungkin langsung sempurna,”kata legislator 4 periode ini.
Ia kemudian membandingkan dengan program yang sama di negara lain yang sudah puluhan tahun berjalan, sementara Indinesia baru setahun dan langsung menjangkau jutaan orang tiap hari. (…)
















