Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Adu Ide di Kota Daeng: Menguji Gagasan Kaesang Tanpa Bayang-Bayang Kekuasaan

0
×

Adu Ide di Kota Daeng: Menguji Gagasan Kaesang Tanpa Bayang-Bayang Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muh Imran
Eks Ketua KAMMI Makassar | PLT Ketua Umum PW KAMMI Sulawesi Selatan

Demokrasi tidak lahir dari baliho, panggung hiburan, atau popularitas semu. Demokrasi tumbuh dari adu ide, adu gagasan, dan keberanian berpikir di ruang terbuka. Karena itu, saya Muh Imran, Eks Ketua KAMMI Makassar dan saat ini PLT Ketua Umum PW KAMMI Sulawesi Selatan, menyatakan siap beradu ide dan gagasan secara terbuka dengan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, di Kota Daeng, Makassar.

Example 500x700

Ini bukan soal personal. Ini bukan soal kebencian. Ini adalah ujian intelektual dan ideologis yang sehat dalam tradisi demokrasi kampus dan gerakan mahasiswa.

Makassar memiliki sejarah panjang sebagai kota perlawanan, kota intelektual, dan kota aktivis. Dari sinilah lahir diskursus keras tentang keadilan sosial, demokrasi, dan keberpihakan pada rakyat. Maka wajar jika publik Makassar, terutama kalangan mahasiswa dan aktivis, ingin mendengar apa sebenarnya ide dan gagasan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI, bukan sekadar sebagai anak dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-7.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar:

  1. Sejauh mana kekuatan ide Kaesang berdiri sendiri tanpa bayang-bayang kekuasaan ayahnya?
  2. Apakah PSI benar-benar membawa gagasan baru untuk demokrasi Indonesia, atau hanya rebranding kekuasaan lama dengan wajah muda?

Saya ingin menguji itu. Secara terbuka. Di hadapan publik. Dengan argumen, bukan sorakan. Dengan data, bukan gimmick.

Indonesia hari ini tidak kekurangan politisi muda. Yang kita butuhkan adalah pemimpin muda yang punya keberanian berpikir, keberpihakan yang jelas, dan gagasan yang teruji. Popularitas tanpa kedalaman hanya akan melahirkan politik dangkal. Politik yang ramai di media sosial, tapi kosong di ruang kebijakan.

Saya yakin, bukan hanya saya. Banyak aktivis, akademisi, dan mahasiswa di Makassar yang ingin mendengar langsung:

  1. Apa pandangan Kaesang soal ketimpangan sosial?
  2. Bagaimana sikap PSI terhadap demokrasi, oligarki, dan penegakan hukum?
  3. Apa solusi konkret PSI untuk pendidikan, lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat di daerah, khususnya Indonesia Timur?

Jika Kaesang benar-benar percaya diri dengan gagasannya, maka ruang dialog terbuka adalah jawabannya. Tidak perlu panggung eksklusif. Tidak perlu protokoler berlebihan. Cukup satu forum terbuka, jujur, dan setara.

Sebagai aktivis, saya percaya satu hal:

  1. Gagasan yang kuat tidak takut diuji.
  2. Pemimpin yang matang tidak alergi pada kritik.
  3. Makassar siap menjadi panggung adu ide.
  4. Aktivis siap menjadi penantang gagasan.

Dan publik berhak menilai siapa yang benar-benar layak memimpin, bukan karena nama besar, tapi karena pikiran besar.

Mari bertemu di ruang terbuka demokrasi.

Bukan untuk menang-menangan, tetapi untuk mencerdaskan politik bangsa.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *