Oleh: Tamsil Linrung ( Wakil Ketua DPD RI)
Allah berfirman :QS. An-Nazi’at 40 :41 Yang Artinya : Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya
Begitu kita cukup dekat dengan perenungan ayat ini, ada satu klausal lanskap spritual yang berubah. Seringkali kita disuguhkan satu konsep bahwa pengendalian diri sering dipahami sebagai urusan pribadi. Setiap orang berjuang sendiri melawan keinginan dirinya.
Lantas rupanya Ramadhan menghadirkan pemandangan yang jauh berbeda. Jutaan orang di penjuru bumi menahan lapar, dahaga, dan dorongan biologis secara serentak. Dalam waktu yang sama. Dalam disiplin yang sama. Dan itu dapat kita lihat sebagai latihan pengendalian diri kolektif yang jarang ditemukan dalam pengalaman sosial mana pun.
Jutaan orang menahan diri dari hawa nafsu bukan hanya urusan batin, tetapi juga fondasi akhlak sosial. Ketika jutaan orang secara sadar mengekang dorongan dirinya, di situlah lahir ketertiban yang tidak dipaksakan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perisai itu melindungi diri, sekaligus menjaga masyarakat dari letupan emosi dan tindakan yang merugikan.
Dan—semua ini berlangsung tanpa aparat pengawas. Tidak ada polisi yang berdiri memastikan setiap orang menahan diri. Tidak ada sanksi administratif yang memaksa. Kontrolnya berbasis kesadaran iman. Ramadhan memperlihatkan kepada kita bahwa sebuah masyarakat dapat tertib oleh kesadaran, bukan semata oleh aturan. ini adalag pesan peradaban yang sangat dalam. Ketika kesadaran batin tumbuh bersama, disiplin sosial pun lahir dengan sendirinya.














