Oleh : Tamsil Linrung
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 187: Yang Artinya Dan makan serta minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.”
Ayat ini sekilas tampak sederhana. Ia mengatur kapan kita mulai dan mengakhiri puasa. Namun sejatinya, ia bukan sekadar penanda teknis waktu ibadah. Ia adalah arsitektur peradaban waktu.
Ramadan mendidik kita untuk menata ulang relasi dengan waktu: bukan lagi waktu yang kita habiskan, melainkan waktu yang kita maknai.
Perhatikan bagaimana Allah menyebut “benang putih” dan “benang hitam.” Sebuah metafora yang lembut namun presisi. Fajar bukan sekadar perubahan cahaya, tetapi pergeseran kesadaran.
Dari gelap menuju terang. Dari naluri menuju kendali diri. Dari rutinitas biologis menuju disiplin spiritual. Di situlah puasa dimulai. Bukan hanya pada tubuh, tetapi pada orientasi hidup.
“ثم أتموا الصيام إلى الليل”
“Sempurnakanlah puasa sampai malam”. Kata “sempurnakan” adalah perintah kualitatif. Bukan merujuk pada durasi. Puasa bukan hanya soal bertahan hingga magrib, tetapi bagaimana sepanjang hari itu kita menjaga lisan, pikiran, dan mengendalikan keputusan.
Di sinilah Ramadan membentuk integritas: konsisten antara yang tersembunyi dan yang tampak.
Semoga Ramadan kali ini bukan hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi juga mengubah arah hidup kita, dari sekadar mencari untung, menuju menjemput berkah.
Wallahu a’lam bishawab.














