Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

”Ramadhan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan.”

0
×

”Ramadhan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan.”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Munawir Kamaluddin

Ada manusia yang rajin beribadah, tetapi cara berpikirnya masih penuh prasangka. Ada yang tekun berpuasa, tetapi lisannya tetap gemar menyimpulkan tanpa data. Ada yang khusyuk tarawih, namun mudah terjebak pada kabar yang belum tentu benar. Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur, apakah Ramadhan hanya melatih lapar dan haus, atau juga menertibkan cara kita berpikir dan merasa?

Example 500x700

Logical fallacy adalah kesalahan berpikir, sesat nalar, ketika kesimpulan diambil tanpa landasan yang benar. Ia bisa berbentuk generalisasi berlebihan, prasangka tanpa bukti, mengikuti emosi tanpa verifikasi, atau membenarkan diri hanya karena mayoritas melakukannya.

Dalam realitas sosial hari ini, logical fallacy tumbuh subur di ruang digital, dalam perdebatan politik, bahkan dalam percakapan keluarga. Hoaks dipercaya karena sesuai selera. Tuduhan dilempar karena cocok dengan emosi. Kebenaran diukur dari viralitas, bukan validitas.
Lalu apa kaitannya dengan Ramadhan?

Ramadhan bukan hanya ibadah fisik. Ia adalah madrasah penyucian akal dan hati. Allah SWT. menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah (verifikasilah).”(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah fondasi etika berpikir. Tabayyun bukan hanya etika sosial, tetapi juga disiplin intelektual. Ramadhan seharusnya melatih kita untuk tidak gegabah dalam menilai, tidak cepat menghakimi, dan tidak mudah menyimpulkan tanpa data.
Lebih dalam lagi, Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra: 36)

Betapa relevannya ayat ini di era informasi instan. Banyak orang mengikuti opini tanpa ilmu, membagikan kabar tanpa klarifikasi, dan membenci tanpa memahami. Logical fallacy bukan sekadar kesalahan logika, ia adalah cacat moral jika dibiarkan.
Rasulullah SAW. bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.”(HR. Muslim)

Hadits ini seperti teguran keras di zaman media sosial. Tidak semua yang didengar harus disebarkan. Tidak semua yang viral adalah benar. Ramadhan mengajarkan kontrol diri, dan kontrol diri itu juga berlaku pada informasi dan opini.

Logical fallacy sering lahir dari hati yang tidak bersih. Ketika ego dominan, kebenaran menjadi relatif. Ketika kebencian memimpin, fakta dipelintir agar sesuai selera. Karena itu Allah SWT. mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah: 8).

Inilah koreksi cara merasa. Ramadhan bukan hanya menyucikan perut, tetapi juga menyaring emosi. Kebencian yang tidak terkendali melahirkan sesat pikir. Dan sesat pikir melahirkan konflik sosial.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.”

Ini adalah etika intelektual yang agung. Kerendahan hati dalam berpikir adalah tanda kedewasaan iman. Ramadhan seharusnya menumbuhkan sikap ini, bahwa kita bisa salah, dan orang lain bisa benar.

Logical fallacy juga sering lahir dari prasangka. Allah mengingatkan dengan bahasa yang sangat halus:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”( QS. Al-Hujurat: 12)

Prasangka adalah pintu awal kesalahan logika. Kita menilai niat orang tanpa bukti, menuduh tanpa klarifikasi, dan merasa paling benar tanpa refleksi. Ramadhan datang untuk membersihkan kabut itu.

Secara spiritual, puasa melatih kesadaran. Ketika lapar, kita belajar sabar. Ketika haus, kita belajar menahan diri. Ketika ingin marah, kita ingat bahwa kita sedang berpuasa. Rasulullah SAW. mengajarkan:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ
“Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bersikap bodoh.”(HR. Bukhari dan Muslim)

“Jangan bersikap bodoh” bukan hanya soal perilaku, tetapi juga cara berpikir. Kebodohan intelektual sering lebih berbahaya daripada kebodohan emosional. Maka Ramadhan sejatinya adalah revolusi.

Revolusi akal, agar tidak mudah terjebak sesat pikir. Revolusi hati, agar tidak mudah terjebak sesat rasa. Ia menyaring argumen, menata kesadaran, dan memurnikan niat. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, tetapi oleh siapa yang paling jujur mencari cahaya.

Di akhir perjalanan Ramadhan, pertanyaannya sederhana namun mendalam, apakah kita hanya menurunkan berat badan, atau juga menurunkan ego? Apakah kita hanya menahan lapar, atau juga menahan prasangka? , Apakah kita hanya memperbanyak ibadah, atau juga memperbaiki cara berpikir?,
Karena jika Ramadhan berhasil menjernihkan nalar dan menyucikan jiwa, maka kita tidak hanya keluar sebagai orang yang lebih taat, tetapi juga lebih adil, lebih bijak, dan lebih dewasa dalam menyikapi dunia.

Dan mungkin di situlah pencerahan sejati bermula, ketika akal tunduk pada kebenaran, dan hati tunduk pada cahaya-Nya.

Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏MK

SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamauddin

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *