Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Profesi Dosen Tak Lagi Menarik bagi Generasi Muda: Ancaman Serius bagi Produktivitas dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

13
×

Profesi Dosen Tak Lagi Menarik bagi Generasi Muda: Ancaman Serius bagi Produktivitas dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Rendra Anggoro, Pakar Manajemen Sumber Daya Manusia

Profesi dosen di Indonesia tengah mengalami penurunan daya tarik yang semakin nyata di kalangan generasi muda terdidik. Fenomena ini bukan persoalan berkurangnya idealisme, melainkan hasil kalkulasi rasional dalam pasar tenaga kerja modern yang semakin kompetitif. Jalur akademik kini menjadi salah satu investasi sumber daya manusia dengan biaya tertinggi, namun tingkat pengembalian paling lambat dan penuh ketidakpastian.

Example 500x700

Untuk menjadi dosen yang kompetitif secara global, seseorang harus menempuh pendidikan magister bahkan doktoral dengan biaya besar dan pengorbanan waktu produktif bertahun-tahun. Namun ketika memasuki dunia kerja, remunerasi awal yang diterima terutama di banyak perguruan tinggi swasta relatif rendah dibanding sektor industri berbasis pengetahuan. Dalam perspektif ekonomi SDM, ini menciptakan ketimpangan serius antara investasi pendidikan dan imbal hasil karier.

Ironisnya, di saat kesejahteraan stagnan, beban kerja dosen justru melonjak tajam. Tridharma perguruan tinggi telah berevolusi menjadi sistem target berbasis output global: publikasi internasional bereputasi, kompetisi hibah riset, tuntutan akreditasi berlapis, hingga administrasi kinerja yang kompleks. Produktivitas dipaksa naik dengan logika korporasi modern, tetapi sistem penghargaan masih terjebak dalam birokrasi lama yang kaku dan minim insentif kinerja.

Generasi muda membaca realitas ini dengan sangat rasional. Di sektor teknologi, keuangan, dan konsultan profesional, talenta berpendidikan tinggi memperoleh kompensasi lebih besar, jalur karier cepat, dan sistem merit yang jelas. Sebaliknya, dunia akademik menawarkan promosi lambat, birokratis, serta ketidakpastian kesejahteraan. Dalam konteks ini, menjauhi profesi dosen bukan sikap pragmatis berlebihan, melainkan keputusan ekonomi yang logis.

Dampak jangka panjangnya sangat berbahaya bagi pembangunan SDM nasional. Kita sedang berada pada fase bonus demografi jumlah penduduk usia produktif terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Namun bonus ini hanya menghasilkan dividen ekonomi jika ditopang pendidikan tinggi yang kuat dan dosen berkualitas tinggi sebagai penggerak utama produksi pengetahuan.

Ketika profesi dosen kehilangan talenta terbaiknya, mata rantai pembangunan SDM unggul terputus di hulunya. Universitas berisiko berubah menjadi institusi pengajaran massal tanpa kekuatan riset dan inovasi. Kualitas lulusan stagnan, produktivitas tenaga kerja melambat, dan kontribusi perguruan tinggi terhadap ekonomi berbasis inovasi melemah.

Dalam simulasi logis pembangunan jangka panjang, krisis kualitas dosen akan memicu efek domino: menurunnya mutu riset, rendahnya inovasi industri, dan lambatnya pertumbuhan produktivitas nasional. Selisih kenaikan produktivitas hanya satu hingga dua persen per tahun saja, dalam dua dekade, sudah cukup membedakan negara yang naik kelas menjadi maju dengan negara yang terjebak stagnasi.

Di sinilah ancaman middle income trap menjadi nyata. Banyak negara gagal melompat dari pendapatan menengah ke negara maju bukan karena kurang modal fisik, tetapi karena kualitas SDM dan inovasi yang mandek. Universitas yang lemah menghasilkan industri bernilai tambah rendah, bergantung pada teknologi impor, dan sulit bersaing global.

Indonesia berisiko mengulang pola ini jika profesi dosen terus dibiarkan tidak kompetitif. Kita menuntut akademisi bertaraf internasional, tetapi menghargainya dengan sistem kesejahteraan lokal yang minim. Ini bukan sekadar ketimpangan profesi, melainkan kesalahan strategi pembangunan ekonomi jangka panjang.

Lebih buruk lagi, kondisi ini menciptakan adverse selection dalam dunia akademik: talenta paling unggul memilih sektor non-akademik, sementara yang bertahan sering kali bukan yang paling kompetitif secara global. Dalam jangka panjang, kualitas riset nasional menurun, reputasi perguruan tinggi melemah, dan peran universitas sebagai mesin inovasi ekonomi menghilang.

Jika tidak ada reformasi struktural serius terutama pada sistem remunerasi dosen, pendanaan riset berkelanjutan, serta penyederhanaan karier akademik berbasis merit bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban demografi. Kita akan memiliki jutaan tenaga kerja usia produktif, tetapi tanpa kualitas unggul untuk mendorong lompatan ekonomi.

Pada akhirnya, menurunnya minat menjadi dosen bukan kegagalan generasi muda mencintai ilmu pengetahuan. Ia adalah respons rasional terhadap sistem yang gagal menghargai kerja intelektual.

Dan dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia strategis, bangsa yang gagal membuat profesi intelektualnya kompetitif sedang secara sadar menurunkan kualitas pertumbuhan ekonominya sendiri.

Middle income trap bukan takdir.
Ia adalah hasil dari pengabaian terhadap investasi pada manusia terutama para pendidik yang membentuk generasi unggul.(*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *