Oleh : A. Syahruni Aryanti (Penulis)
Di zaman ketika politik dipenuhi suara, pernyataan, konferensi pers, dan saling tuding di ruang publik, ada satu sikap yang justru terasa semakin langka: diam. Diam bukan karena tidak tahu apa yang terjadi, bukan pula karena tidak punya sikap, melainkan karena memilih menjaga sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepentingan jangka pendek. Dalam konteks inilah, saya ingin menulis tentang Rusdi Masse.
Saya mengenal Rusdi Masse bukan semata sebagai politisi, bukan pula hanya sebagai pejabat publik. Saya mengenalnya sebagai manusia: dengan kelebihan, keterbatasan, dan terutama dengan kepekaan hati yang jarang dimiliki oleh mereka yang lama berkecimpung di dunia kekuasaan. Dalam banyak pertemuan, saya melihat satu hal yang konsisten darinya: kehati-hatian dalam berbicara, kesungguhan dalam mendengar, dan kecenderungan untuk tidak melukai orang lain dengan kata-kata.
Ketika publik ramai membicarakan kepindahannya dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia, yang justru paling menarik perhatian saya bukanlah keputusan politik itu sendiri. Dalam sejarah politik Indonesia, perpindahan partai bukanlah hal yang asing. Ia terjadi karena banyak alasan: strategi, perubahan peta kekuasaan, idealisme baru, atau bahkan kelelahan terhadap dinamika internal. Yang membuat peristiwa ini berbeda adalah satu hal: sikap diam Rusdi Masse.
Tidak ada pernyataan panjang di media. Tidak ada upaya membangun narasi pembenaran. Tidak ada serangan balik kepada rumah lama yang telah membesarkan namanya. Dalam dunia politik yang sering memaksa orang menjelaskan segalanya, Rusdi Masse justru memilih menahan diri. Dan di situlah makna politik diam mulai menjadi penting.
Diam, dalam politik, sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, dalam banyak tradisi etika, diam justru merupakan bentuk penguasaan diri tertinggi. Diam berarti menahan ego. Diam berarti tidak mengumbar luka lama. Diam berarti memahami bahwa tidak semua kebenaran harus diucapkan di ruang publik. Ada hal-hal yang cukup disimpan sebagai urusan hati dan sejarah personal.
Saya percaya, diam Rusdi Masse bukanlah diam kosong. Ia adalah diam yang sarat pertimbangan. Diam yang lahir dari kesadaran bahwa kata-kata bisa melukai banyak pihak: kawan lama, struktur partai, bahkan para kader yang masih setia di rumah politik sebelumnya. Dengan memilih tidak berbicara, ia justru sedang menjaga banyak orang sekaligus.
Dalam politik, kesetiaan sering diukur dari seberapa lama seseorang bertahan di satu partai. Padahal, kesetiaan tidak selalu identik dengan keanggotaan struktural. Ada kesetiaan yang lebih dalam: kesetiaan pada orang-orang yang pernah berjuang bersama, kesetiaan pada sejarah pribadi, dan kesetiaan pada etika untuk tidak membakar jembatan yang telah dilewati.
Rusdi Masse, dalam diamnya, seolah ingin mengatakan bahwa pindah rumah politik tidak harus disertai dengan penghinaan terhadap rumah lama. Bahwa berpisah tidak selalu harus diakhiri dengan pertengkaran. Bahwa menjaga martabat masa lalu sama pentingnya dengan membangun masa depan.
Di era politik yang semakin transaksional, sikap seperti ini terasa semakin asing. Banyak politisi merasa perlu menjelaskan segalanya, bahkan hal-hal yang seharusnya tetap menjadi wilayah privat. Banyak pula yang merasa harus menjelekkan masa lalu demi menghalalkan pilihan hari ini. Dalam situasi seperti itu, diam menjadi sikap yang radikal.
Saya tidak sedang menilai apakah keputusan politik Rusdi Masse benar atau salah. Itu wilayah yang akan diuji oleh waktu dan oleh kerja-kerja konkret di masa depan. Yang ingin saya catat adalah satu pelajaran etis: bahwa dalam politik, tidak semua sikap terhormat harus dipertontonkan.
Ada kalanya, menjaga kehormatan orang lain jauh lebih penting daripada membela diri sendiri. Ada kalanya, memilih diam adalah bentuk keberanian yang lebih sulit daripada berpidato panjang. Dan ada kalanya, kesetiaan justru tampak paling jelas ketika seseorang menolak berbicara buruk tentang masa lalunya.
Dalam dunia yang gaduh, politik diam Rusdi Masse mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada seberapa keras kita berbicara, melainkan pada seberapa dalam kita mampu menahan diri. Barangkali, di situlah letak martabat seorang politisi yang masih memelihara hatinya.
















