Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Fenomena Pengibaran Bendera One Piece adalah Bentuk Kritik Sosial

21
×

Fenomena Pengibaran Bendera One Piece adalah Bentuk Kritik Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh; Teobaldus Hemma S.Pd.,M.Pd

Aktivis Sosial Pro Demokrasi 

Example 500x700

Teobaldus Hemma seorang aktivis sosial pro demokrasi  dan berbidang ilmu sosiologi di universitas megarezky makassar menyambapikan beberapa hal penting terkait Pengibaran Bendera One Piece dalam perspektif sosiologi.

Menurutnya; Pengibaran Bendera One Piece Jelang 17 Agustus 2025 merupakan bentuk  sosial kritik yang memiliki makna simbolik dibalik Pengibaran Bendera One Piece. Fenomena ini bukanlah suatu hal baru dalam sosiologi atau kehidupan bermasyarakat dan negara. Dalam sosiologi budaya, simbol seperti anime, film, dan musik bisa dijadikan sarana kritik terhadap sistem sosial. 

Kita amati di sejumlah tempat, bendera bergambar tengkorak bertopi ala anime One Piece itu dikibarkan disamping bendera bendera Merah Putih. Jadi, perdebatan soal makna simbol adalah perdebatan suatu makna  perspektif terhadap simbol. 

Dalam Perspektif interaksionisme simbolik  yang dikenal sosiologi mikro, yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer, menjelaskan bagaimana makna dibentuk melalui interaksi sosial dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi tindakan individu. Mead fokus pada perkembangan diri melalui interaksi, sementara Blumer menekankan pada tiga prinsip utama interaksi simbolik: manusia bertindak berdasarkan makna yang mereka berikan, makna berasal dari interaksi sosial, dan makna dimodifikasi melalui interpretasi.

Mari kita amati baik-baik. Ada sebagian masyarakat, yang memaknai  simbol ini sekadar ekspresi budaya populer. Namun, tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan gerakan protes sosial, bahkan ada yang menilai sebagai ancaman terhadap identitas nasional.

Bendera ikonik di One Piece, yang dikenal sebagai Jolly Roger, sudah jadi ikon tak terpisahkan dari dunia bajak laut dalam serial manga dan anime karya Eiichiro Oda. Simbol tengkorak dengan elemen unik ini belakangan tak hanya menjadi identitas para kru bajak laut, melainkan juga menarik perhatian penggemar di Indonesia menjelang HUT ke-80 RI.

Dalam perspektif sosiologi, saya melihat ada beberapa hal yang perlu dipahami.

1. Ekspresi suatau simbol, bukan ancaman terhadap negara.

Baldy, menilai bendera One Piece yang dikibarkan bukan representasi bajak laut garang seperti simbol kekerasan.

Dalam sejarahnnya, Versi anime saat ini  olly Roger lebih dari sekadar aksesori kapal. Ia melambangkan jiwa petualangan, kebebasan, dan perlawanan para bajak laut. Jolly Roger adalah dering dikenal sebagai bendera tradisional bajak laut yang menggambarkan tengkorak di atas tulang paha yang bersilang dengan latar hitam. Bendera ini terinspirasi dari sejarah nyata bajak laut Eropa dan Karibia pada abad ke-17 hingga ke-18 yang digunakan untuk mengintimidasi lawan dan menandakan status mereka sebagai perompak.

Bendera ini tak hanya jadi pajangan di kapal bajak laut, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap Pemerintah Dunia yang dianggap korup dan menindas. Penggunaannya bahkan meluas ke tato dan pakaian kru, menegaskan loyalitas mereka. Dalam beberapa arc, seperti Davy Back Fight, kehilangan Jolly Roger dianggap sebagai sebuah aib.

Meski Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia menganggap pengibaran Jolly Roger sebagai kejahatan, beberapa negara, seperti Kerajaan Drum, memakainya sebagai tanda kebebasan setelah bebas dari tirani.

Eiichiro Oda mengadopsi ide ini, tapi menambahkan sentuhan kreatif dengan memungkinkan setiap kru memiliki desain unik yang mencerminkan kepribadian kaptennya, seperti kumis Whitebeard atau tiga bekas luka di mata Shanks. Sejarah Jolly Roger dalam cerita dimulai sejak awal petualangan Monkey D. Luffy ketika ia membentuk Straw Hat Pirates.

Sehingga mengamati fenomena ini “saya melihat bahwa ketika yang dipertontonkan itu sebenarnnya bukan bendera yang mewakili bajak laut yang wajahnya garang, tengkorak yang garang dan bendera hitam, kuning, mera dan putih, itu  lebih ke arah animasi, lebih ke arah pertujunkan makna kesadaran kolektif dari generasi muda muda bahwa mereka saat ini sedang hidup dalam sistem yang tidak adil. ujar Baldy kepada Tribun 1.com , Sabtu (2/8/2025) siang. 

Menurutnya, simbol ini lahir dari budaya kreatif rakyat yang memang selama ini beberapa fenome sosial lainnya seperti gerakan sosial kritik oleh Band Sukatani bahkan ada juga simbol seperti semangka” jelasnya.

2. Efek tren dan demonstration effect

Fenomena ini juga tidak lepas dari pengaruh tren dan efek ikut-ikutan yang dalam sosiologi dikenal sebagai demonstration effect. “Pertama adalah bahwa ini satu kesenangan, yang dibagi merata, dan orang-orang merasa dan karena ini dikenal banyak di mana-mana, orang ikut-ikutan semacam FOMO.

Dalam sosiologi demonstration effect, terpakai banyak, kita ikut-ikutan, belum tentu memiliki motivasi yang lain kecuali hanya mengikuti, itu satu,” kata dia. 3. Bagian dari reproduksi budaya populer Penggunaan bendera One Piece juga merupakan contoh dari reproduksi budaya, yaitu bagaimana simbol-simbol dari media massa diterjemahkan dan digunakan dalam kehidupan sosial.tutupnya

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *